Apotek Stepa Bagi Pengalaman Nyata di Kuliah Tamu Kewirausahaan Sosial STPMD “APMD” Yogyakarta

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD” Yogyakarta mendapat pengalaman berharga dalam kuliah tamu mata kuliah Kewirausahaan Sosial yang menghadirkan praktisi langsung dari dunia usaha. Kuliah tamu ini mengangkat tema Sociopreneurship sebuah pendekatan wirausaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada dampak sosial bagi masyarakat luas.
Narasumber yang hadir adalah apt. Ramadhan Bayumurthy, S.Far, pendiri sekaligus ketua dari Apotek Stepa, jaringan apotek berbasis di Yogyakarta yang berdiri sejak 2015 dan kini telah berkembang menjadi beberapa cabang di wilayah Bantul dan sekitarnya.
Dari Modal Seadanya Menjadi Jaringan Apotek
Dalam sesi story telling, apt. Ramadhan berbagi perjalanan nyata membangun usaha dari nol. Berawal dari keputusan bersama sang istri pada akhir 2014, ia merintis apotek pertamanya pada April 2015 dengan modal yang sangat terbatas Rp10 juta dari kantong sendiri, Rp25 juta pinjaman orang tua, dan Rp20 juta dalam bentuk pinjaman barang dari apotek rekan sejawat. Tantangan awal muncul di era kebijakan JKN/BPJS, di mana banyak perusahaan farmasi asing mundur sebagai mitra karena tekanan harga obat yang rendah.
Namun, dari keterbatasan itulah Apotek Stepa tumbuh. Pada 2017, cabang kedua dibuka di Sewon, Bantul, melalui skema patungan bersama kolega alumni IMM dan UAD. Setahun kemudian, sebuah apotek di Pajangan, Bantul diakuisisi. Puncaknya, pada awal 2022, lima apotek resmi dilebur di bawah satu nama: Apotek Stepa, disertai reformasi manajemen menyeluruh yang mencakup SOP, kode etik, struktur organisasi, hingga sistem kerja berbasis produktivitas.

Filosofi STEPA: Smart, Terpercaya, Empati, Persamaan, Aktual
Tak sekadar membahas bisnis, apt. Ramadhan juga memperkenalkan filosofi yang menjadi fondasi Apotek Stepa. Setiap personalia apotek dituntut untuk memiliki pengetahuan yang baik serta hard skill, soft skill, dan selling skill yang mumpuni (Smart). Layanan yang kompeten, kata dia, secara alami akan melahirkan kepercayaan dari konsumen (Terpercaya).
Yang paling membedakan Apotek Stepa dari apotek lain, menurut narasumber, adalah nilai Empati yang tertuang langsung dalam slogan perusahaan: “Empati adalah prioritas.” Nilai ini bukan sekadar kalimat promosi, melainkan menjiwai setiap tindakan pelayanan kepada pasien. Di samping itu, prinsip Persamaan dan Persaudaraan mendorong setiap keputusan strategis diambil melalui musyawarah antara pemilik, apoteker, manajer, dan staf. Sementara nilai Aktual mendorong pengembangan bisnis yang berbasis data, riset, dan adaptasi terhadap dinamika zaman.
Apa Itu Sociopreneurship?
Pada bagian inti materi, apt. Ramadhan menjelaskan konsep sociopreneurship secara lugas. Istilah ini merupakan gabungan dari kata social dan entrepreneurship wirausaha yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga menciptakan dampak sosial yang nyata.
Ia menegaskan bahwa sociopreneur tetaplah pelaku bisnis: tetap berjualan, tetap mencari pemasukan, tetap mengambil keuntungan. Namun, keuntungan itu sebagian digunakan untuk memberdayakan masyarakat, membuka lapangan kerja, membantu kelompok yang membutuhkan, atau menyelesaikan masalah sosial. Perbedaan mendasarnya ada pada pertanyaan yang diajukan: jika bisnis biasa bertanya “Bagaimana saya mendapat untung?”, maka sociopreneur bertanya “Bagaimana usaha ini bisa untung sekaligus bermanfaat?”
Tiga konsep inti sociopreneurship yang disampaikan adalah: adanya masalah sosial, adanya solusi usaha, dan adanya dampak yang berkelanjutan. Pola pikir seorang sociopreneur, lanjutnya, adalah kemampuan melihat masalah sebagai peluang solusi seperti bagaimana orang lain melihat sampah sebagai sesuatu yang menjijikkan, sementara sociopreneur melihatnya sebagai peluang usaha sekaligus pemberdayaan masyarakat.
Kuliah tamu ini ditutup dengan sebuah pesan yang ringkas namun kuat: “Sociopreneurship bukan hanya tentang membangun bisnis, tetapi juga membangun harapan dan kebermanfaatan bagi masyarakat.”

Kuliah Lapangan Strategi Pembangunan Desa Berkelanjutan di Destinasi Wisata Kebon Empring

Mahasiswa peserta Mata Kuliah Strategi Pembangunan Desa Berkelanjutan Program Studi Pembangunan Sosial STPMD “APMD” melaksanakan kegiatan kuliah lapangan di destinasi wisata pasar Kebon Empring, Srimulyo, Piyungan, Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran praktik lapangan dan penguatan pemahaman pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat.

         Pasar Kebon Empring dipilih karena dinilai sebagai salah satu best practice pengelolaan wisata berbasis komunitas yang mampu mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan ekologi secara berkelanjutan. Secara ekonomi, keberadaan pasar dan aktivitas wisata yang dikelola masyarakat setempat mampu meningkatkan pendapatan warga dan menggerakkan ekonomi lokal. Secara sosial, kegiatan wisata mendorong peningkatan kapasitas masyarakat, memperkuat partisipasi warga, serta membangun social bonding antar masyarakat. Sementara secara ekologis, pengelolaan wisata dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian sungai dan kelestarian kawasan sempadan sungai.

         Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penyerahan bibit pohon aren sebagai simbol komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan keberlanjutan kawasan wisata. Penyerahan bibit dilakukan oleh dosen pengampu mata kuliah Dra. Widati, lic.rer.reg. kepada pengelola wisata setempat ibu Titik Ai-Luh.

         Ibu Widati selaku dosen mata kuliah menyampaikan bahwa pembangunan desa berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang peningkatan ekonomi semata, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mampu menjaga relasi sosial dan kelestarian ekologinya secara seimbang. Kuliah lapangan ini diharapkan dapat memperkuat perspektif mahasiswa mengenai pentingnya pembangunan desa yang partisipatif, inklusif, dan berkelanjutan (N).

Kemah Desa STPMD “APMD” Di Desa Ekowisata Pancoh: Kedesaan, Kerakyatan, Kemasyarakatan.

Sebanyak kurang lebih 36 mahasiswa STPMD “APMD” Yogyakarta mengikuti kegiatan Kemah Desa yang dilaksanakan pada 5–8 Mei 2026 di Desa Ekowisata Pancoh, Padukuhan Pancoh, Kalurahan Girikerto. Peserta berasal dari berbagai perwakilan program studi, UKM, dan HMJ yang diberangkatkan bersama dari kampus menggunakan bus.

Kegiatan ini diinisiasi sebagai ruang belajar bersama bagi mahasiswa untuk memahami nilai kedesaan, kerakyatan, dan kemasyarakatan melalui pengalaman hidup langsung di tengah masyarakat. Kemah desa juga menjadi wadah bagi mahasiswa lintas prodi, seperti Ilmu Pemerintahan, Ilmu Komunikasi, Ilmu Pembangunan Sosial, dan D3 Pembangunan Masyarakat Desa untuk saling mengenal, belajar, dan berproses bersama melalui konsep *bounding, learning,* dan *sounding*.

Setibanya di lokasi, peserta diarahkan untuk tinggal bersama induk semang selama empat hari. Setiap rumah ditempati sekitar tiga hingga empat mahasiswa yang dibagi secara acak. Selama tinggal bersama induk semang, peserta tidak hanya makan dan beristirahat bersama keluarga induk semang, tetapi juga membangun komunikasi, beradaptasi, dan mengenal kehidupan masyarakat desa secara lebih dekat.

Malamnya, peserta mendapatkan pembekalan mengenai nilai-nilai kedesaan, kerakyatan, dan kemasyarakatan yang disampaikan oleh Ketua STPMD “APMD Dr. Sutoro Eko Yunanto, M.Si. Materi tersebut menjadi bekal awal bagi peserta untuk memahami kehidupan desa sekaligus memperkuat perspektif mereka dalam melakukan eksplorasi sosial di hari-hari berikutnya. Kegiatan malam itu kemudian dilanjutkan dengan sesi bersama Bapak Fatih Gama Abisono Nasution, S.IP., M.A. yang membahas pentingnya membangun rasa percaya diri, berpikir positif, dan membuka diri ketika berada di lingkungan baru serta saat berinteraksi dengan masyarakat.

Berbeda dengan kegiatan kemah pada umumnya yang identik dengan outbound, Kemah Desa STPMD “APMD” justru mengajak peserta untuk membaur langsung dengan masyarakat. Mahasiswa mengikuti aktivitas keseharian warga yang mereka temui di lingkungan dusun. Beberapa peserta turut pergi ke sawah, berkebun, memetik cabai, membantu proses penyerbukan pohon salak agar berbuah, mencari rumput untuk pakan ternak, hingga membersihkan kandang sapi yang menjadi bagian dari proses pengelolaan biogas milik salah seorang warga.

Melalui pengalaman tersebut, peserta diajak untuk mengamati, memahami, dan mengeksplorasi kehidupan masyarakat dari berbagai sudut pandang. Setiap malam setelah salat Isya, peserta mengikuti sesi story telling untuk menceritakan pengalaman yang telah mereka ikuti sekaligus menyampaikan analisis serta temuan yang diperoleh selama berinteraksi dengan warga.

Selain itu, pada malam kedua peserta juga mendapatkan materi dari sejumlah tokoh masyarakat, mulai dari pengelola desa wisata, ketua kelompok kandang “Gawe Rukun”, hingga pelaku UMKM setempat. Materi tersebut semakin memperluas pemahaman mahasiswa mengenai potensi dan dinamika kehidupan masyarakat desa.

Selama kegiatan berlangsung, peserta diarahkan untuk menghasilkan karya berupa video story telling dan tulisan analisis berdasarkan perspektif program studi masing-masing. Hasil eksplorasi tersebut kemudian dipresentasikan pada malam puncak kegiatan.

Di hari terakhir diisi dengan berbagai agenda mulai dari sarapan bersama keluarga induk semang dan aktivitas bersama masyarakat sejak pukul 07.00 WIB. Setelah itu peserta mengikuti diskusi bersama Kepala Desa Girikerto di Pendopo, dilanjutkan koordinasi penyusunan cerita pengalaman berdesa dan bermasyarakat.

Pada siang hingga sore hari, peserta menyusun cerita dan membuat konten berupa video, tulisan, dan media sosial di wilayah padukuhan. Malam harinya dilaksanakan presentasi cerita dan konten hasil eksplorasi peserta di Pendopo Camping. Sekitar 10 peserta mempresentasikan hasil temuan dan analisis mereka di depan seluruh peserta lainnya.

Kegiatan kemudian ditutup dengan api unggun santai yang diikuti seluruh peserta dan panitia. Suasana keakraban terasa ketika peserta berkumpul bersama sambil melakukan refleksi, menuliskan pengalaman selama kegiatan, berbagi cerita, serta membakar jagung bersama di malam terakhir Kemah Desa STPMD “APMD” Yogyakarta (N)

Mahasiswa Ilmu Komunikasi STPMD “APMD” Angkatan 2023 Dalami Media dan Pemberdayaan di Bali

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi STPMD “APMD” Yogyakarta angkatan 2023 melaksanakan kegiatan Visit Media dan Benchmarking pada Sabtu hingga Selasa, 25–29 April 2026. Kegiatan ini merupakan program rutin tahunan yang wajib diikuti mahasiswa sebagai bagian dari pengembangan kapasitas, khususnya di bidang media dan komunikasi pemberdayaan.
Sebanyak 32 mahasiswa angkatan 2023 turut serta dalam kegiatan ini, didampingi oleh Wakil Ketua III Bidang Organisasi dan Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa Tri Agus Susanto, S.Pd., M.Si, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Dr. Yuli Setyowati, M.Si, serta Sekretaris Program Studi Habib Muhsin, S.Sos., M.Si.
Kegiatan ini mencakup empat agenda utama, yaitu kunjungan ke Desa Panglipuran, Universitas Dwijendra, Bali Pos, dan Desa Sukawati. Melalui rangkaian kunjungan tersebut, mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung mengenai pengelolaan media, pengembangan program studi, serta praktik komunikasi pemberdayaan di masyarakat.
Perjalanan dimulai dari Yogyakarta menuju Bali menggunakan bus dan penyeberangan laut. Setibanya di Bali, mahasiswa memulai rangkaian kegiatan dengan mengunjungi Desa Panglipuran untuk melakukan observasi dan wawancara terkait komunikasi pemberdayaan masyarakat. Mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menggali informasi langsung dari warga dan pengelola desa.

Selanjutnya, mahasiswa melakukan kunjungan ke Universitas Dwijendra dalam rangka benchmarking pengelolaan program studi Ilmu Komunikasi. Kegiatan ini diisi dengan seminar bertema “Benchmarking Pengelolaan Program Studi Ilmu Komunikasi Komunikasi Pemberdayaan dan Berdampak”, yang menghadirkan pemateri dari kedua institusi. Selain itu, juga dilakukan penandatanganan kerja sama antar program studi, serta kunjungan ke fasilitas kampus seperti radio komunitas, perpustakaan, dan ruang podcast.
Kunjungan ke Bali Pos menjadi salah satu momen penting dalam kegiatan ini. Mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mempelajari secara langsung bagaimana proses kerja media, tantangan yang dihadapi industri media saat ini, serta perkembangan media dari konvensional menuju digital.
Tidak hanya itu, mahasiswa juga mengunjungi Desa Sukawati untuk mempelajari bagaimana sebuah desa mampu bertahan sebagai pusat ekonomi dan oleh-oleh dengan melibatkan masyarakat lokal. Di lokasi ini, mahasiswa kembali melakukan observasi dan wawancara terkait praktik komunikasi pemberdayaan yang berjalan.
Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang komprehensif bagi mahasiswa angkatan 2023. Mereka tidak hanya memahami teori di kelas, tetapi juga melihat langsung praktik di berbagai lokasi kunjungan, baik dalam konteks media maupun pemberdayaan masyarakat. Pengalaman ini diharapkan menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk siap terjun ke dunia media setelah menyelesaikan studi mereka.

Diskusi Publik “Kedaulatan Rakyat dalam Bingkai Republik”

Program Studi Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD” menggelar diskusi publik bertajuk “Kedaulatan Rakyat dalam Bingkai Republik” pada Senin (4/5/2026). Kegiatan ini berlangsung secara luring di Ruang M. Soetopo dan daring melalui Zoom Meeting, serta diikuti oleh mahasiswa, akademisi, dan pegiat masyarakat sipil.
Diskusi ini mengangkat pertanyaan mendasar mengenai posisi rakyat dalam sistem republik Indonesia, khususnya terkait sejauh mana prinsip kedaulatan rakyat benar-benar diimplementasikan dalam praktik pemerintahan saat ini.

oplus_1024

Narasumber pada kegiatan ini adalah Dr. Gregorius Sahdan, S.IP., M.A., Jemi Kudiai (Wasekjen DPP Jaman), Eduardo Retno, S.IP (KSP CUPS Ketapang), Dr. Oktav Pahlevi, S.IP., M.IP (Kabag Tata Pemerintahan Kotim) , Vansianus Masir (LPM Teropong), Junaidin Al Rumy (Presma STPMD “APMD”) Moderator: Yuliana Sandra Frastiwi. S.IP.,M.Sc

Diskusi yang dimoderatori oleh Yuliana Sandra Frastiwi ini berlangsung dinamis dengan berbagai pandangan kritis dari peserta. Sejumlah isu yang mencuat antara lain praktik populisme dalam politik elektoral, lemahnya akuntabilitas kebijakan, serta pentingnya penguatan institusi lokal sebagai basis kedaulatan rakyat.

oplus_0

Melalui forum ini, STPMD “APMD” menegaskan komitmennya sebagai kampus yang mendorong tradisi intelektual kritis dan keberpihakan pada rakyat. Diskusi publik ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang wacana, tetapi juga melahirkan gagasan dan langkah konkret dalam memperkuat kedaulatan rakyat dalam bingkai republik.

Wisuda April 2026 STPMD APMD: Menjadi Sarjana Rakyat yang Berpihak pada Rakyat

YOGYAKARTA, – Sebanyak 87 wisudawan dan wisudawati dari berbagai daerah di Indonesia resmi dikukuhkan dalam Wisuda April 2026 Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD”. Momentum ini tidak sekadar menjadi penanda berakhirnya masa studi, tetapi juga menjadi awal dari fase pengabdian nyata di tengah masyarakat, khususnya dalam pembangunan desa dan pemberdayaan rakyat.
Para lulusan yang berasal dari beragam latar belakang sosial dan geografis diharapkan mampu membawa ilmu yang diperoleh selama perkuliahan untuk memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Lebih dari itu, mereka didorong agar kehadirannya dapat memberikan dampak konkret dalam pembangunan daerah dan desa, yang hingga kini masih menghadapi berbagai tantangan struktural dan ketimpangan.
Dalam sambutannya, Ketua STPMD “APMD” menegaskan bahwa gelar sarjana yang disandang oleh para wisudawan bukanlah sekadar simbol akademik, melainkan mandat moral untuk berpihak kepada rakyat. Ia mengingatkan bahwa kampus ini dikenal sebagai “kampus sarjana rakyat”, sehingga setiap lulusannya harus memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kepentingan masyarakat kecil.
“Selamat kepada para wisudawan dan wisudawati yang telah berjuang dari tempat yang membosankan namun bermakna. Ada yang lulus, ada yang lolos. Saya berpesan, berbicaralah tentang rakyat. Rakyat itu memiliki dua pengertian, yaitu wong deso dan wong cilik. Sejak zaman Yunani hingga hari ini, rakyat jelata kerap direndahkan oleh elit, oleh mereka yang merasa besar dan terpelajar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa justru dari rakyatlah sumber kebaikan dan kebajikan itu berasal. Oleh karena itu, seorang sarjana rakyat harus mampu mengedepankan nilai kebaikan di atas sekadar kebenaran formal.
“Sarjana rakyat itu mengutamakan kebaikan daripada kebenaran. Syukur-syukur kita bisa mempertemukan kebaikan dan kebenaran, yang kemudian kita sebut sebagai kebajikan,” tegasnya.
Senada dengan itu, Dewan Pembina Yayasan Pengembangan Pendidikan 17 menekankan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan langkah awal dalam perjuangan panjang untuk rakyat. Ia menegaskan bahwa alumni STPMD “APMD” harus tampil sebagai pelopor pembangunan desa, yang mampu hadir di garis depan dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat.

“Wisuda ini adalah langkah awal perjuangan kita untuk rakyat. Kampus ini adalah kampus kerakyatan, sehingga saudara-saudara memikul tugas yang tidak ringan. Ketika berhadapan dengan masyarakat, Anda harus menjadi pelopor terdepan di desa. Kuncinya adalah konsistensi dalam perjuangan,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Keluarga Alumni (KAPEMADA) dalam pernyataannya menyoroti bahwa para lulusan kini telah memasuki fase pengabdian sesungguhnya. Dunia nyata, menurutnya, menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan ruang kelas.
“Kita sebagai alumni menghadapi banyak tantangan, dan tugas kita adalah mencari solusi atas tantangan tersebut. Kaum marjinal harus selalu kita bela sebagai bentuk ideologi pembebasan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa orientasi pendidikan di STPMD “APMD” tidak berhenti pada transfer pengetahuan, melainkan pada pembentukan kesadaran kritis dan keberpihakan ideologis kepada kelompok yang selama ini terpinggirkan.
Wisuda kali ini juga mencerminkan keberagaman Indonesia, dengan para lulusan yang datang dari berbagai daerah, membawa pengalaman dan perspektif yang berbeda. Modal sosial ini diharapkan menjadi kekuatan dalam membangun jejaring pengabdian yang lebih luas dan kolaboratif di berbagai wilayah.
Dengan bekal akademik dan nilai-nilai kerakyatan yang ditanamkan selama masa studi, para wisudawan diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya adaptif terhadap tantangan zaman, tetapi juga tetap teguh dalam prinsip keberpihakan kepada rakyat.
Pada akhirnya, wisuda April 2026 ini bukan hanya seremoni akademik, melainkan penegasan komitmen bahwa pendidikan tinggi harus kembali pada hakikatnya: mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus membebaskan masyarakat dari berbagai bentuk ketidakadilan. Para sarjana rakyat dari STPMD “APMD” kini ditantang untuk membuktikan bahwa ilmu yang mereka miliki benar-benar hidup dan bekerja di tengah rakyat.

Diskusi Publik “Demokrasi Substantif vs Demokrasi Prosedural, dimana Posisi Korupsi?

2 April 2026 – Magister Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD” Menggelar Diskusi Publik bertema “”Demokrasi Substantif vs Demokrasi Prosedural, dimana Posisi Korupsi?
Dengan narasumber Dr. Supardal. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi kritis atas praktik demokrasi di Indonesia yang dinilai masih menyisakan persoalan mendasar, terutama terkait korupsi.
Diskusi tersebut mengangkat perbedaan mendasar antara demokrasi procedural yang menitikberatkan pada mekanisme formal seperti pemilu dan demokrasi substantif yang menekankan pada keadilan, kesejahteraan, serta keberpihakan pada rakyat. Dalam praktiknya, kedua model demokrasi tersebut kerap tidak berjalan seimbang.
Dalam perspektif demokrasi substantif, korupsi dipandang sebagai pengkhianatan terhadap kedaulatan rakyat. Ketika pejabat publik menyalahgunakan kekuasaan, maka yang dirugikan bukan hanya keuangan negara, tetapi juga hak-hak dasar warga negara.
Para peserta diskusi juga menyoroti bahwa praktik politik biaya tinggi dalam kontestasi elektoral menjadi salah satu faktor yang mendorong terjadinya korupsi. Kandidat yang mengeluarkan biaya besar dalam pemilu cenderung mencari cara untuk “mengembalikan modal” ketika berkuasa.
Selain itu, lemahnya sistem pengawasan dan rendahnya partisipasi publik turut memperparah kondisi tersebut. Demokrasi prosedural tanpa partisipasi bermakna dari masyarakat berpotensi melahirkan elite yang tidak responsif terhadap kepentingan rakyat.
Diskusi ini menegaskan pentingnya mendorong transformasi menuju demokrasi substantif, di mana transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi publik menjadi pilar utama. Penguatan institusi pengawasan, pendidikan politik masyarakat, serta komitmen etika dari para pemimpin dinilai menjadi langkah penting untuk menekan praktik korupsi.
Melalui kegiatan ini, Magister Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD” kembali menegaskan perannya sebagai ruang akademik yang kritis dalam membaca persoalan bangsa. Diskusi publik ini diharapkan tidak hanya memperkaya wacana, tetapi juga mendorong lahirnya praktik demokrasi yang lebih bermakna dan berkeadilan.

Halalbihalal Idul Fitri 1447 Hijriah STPMD “APMD” Yogyakarta

Keluarga besar Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” menggelar kegiatan Halalbihalal yang bertempat di Ruang M. Soetopo kampus. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh keluarga besar STPMD “APMD” termasuk perwakilan mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) sebagai bagian dari tradisi mempererat silaturahmi pasca Hari Raya Idulfitri.
Dalam sambutannya, Ketua STPMD “APMD”, Dr. Sutoro Eko Yunanto, menyampaikan sejumlah pesan reflektif yang dikemas dalam makna filosofis Halalbihalal. Ia menekankan pentingnya memahami esensi Idulfitri tidak hanya sebagai tradisi, tetapi juga sebagai momentum memperbaiki hubungan sosial dan spiritual.
“Halalbihalal adalah silaturahim, menyambung tali kasih,” ujarnya. Selain itu, ia juga menguraikan makna kata-kata yang sering dikaitkan dengan Idulfitri, yakni libur, labur, lebar, dan luber.
Menurutnya, libur dimaknai sebagai waktu jeda untuk refleksi diri, sementara labur berarti proses membersihkan diri atau menebus dosa. Adapun lebar diartikan sebagai selesainya proses tersebut hingga kembali pada keadaan fitri, dan luber menggambarkan limpahan kebaikan, seperti saling memaafkan dan bersedekah.
Lebih lanjut, Ketua STPMD “APMD” juga mengajak seluruh civitas akademika, termasuk mahasiswa, untuk membuka pintu maaf seluas-luasnya serta memperkuat nilai kepedulian sosial melalui sedekah dan kebersamaan.
Kegiatan Halalbihalal ini berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Setelah rangkaian sambutan, acara dilanjutkan dengan ramah tamah yang menjadi momen saling bersalaman antara pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.
Melalui kegiatan ini, diharapkan nilai-nilai kebersamaan, kekeluargaan, serta semangat pengabdian yang menjadi ciri khas STPMD “APMD” dapat terus terjaga dan diperkuat dalam menjalankan Tridharma perguruan tinggi (N).

STPMD APMD Terima Audiensi Disdikbud Papua Tengah

STPMD “APMD” Yogyakarta menerima audiensi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah pada Maret 2026 dalam rangka koordinasi kesiapan penerimaan calon mahasiswa asal Papua Tengah. Kegiatan ini berlangsung di lingkungan kampus dan dihadiri oleh jajaran pimpinan serta perwakilan instansi terkait.

Audiensi ini bertujuan menjajaki kerja sama serta memastikan kesiapan STPMD APMD dalam mendukung akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa dari Papua Tengah. Pembahasan difokuskan pada mekanisme penerimaan, dukungan akademik, serta peluang pengembangan mahasiswa.
Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam memperluas akses pendidikan sekaligus memperkuat komitmen STPMD APMD Yogyakarta dalam mendukung pemerataan pendidikan di Indonesia, khususnya bagi wilayah timur (N).

“Bawaslu Masuk Kampus: Membangun Sinergi untuk Demokrasi Partisipatif”

STPMD “APMD” Yogyakarta menerima kunjungan audiensi dari Bawaslu Kota Yogyakarta dalam rangka konsolidasi demokrasi dan penjajakan kerja sama pada Rabu, 10 Maret 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang STPMD “APMD” Yogyakarta ini dihadiri oleh Ketua dan Anggota Bawaslu Kota Yogyakarta bersama sivitas akademika kampus.
Audiensi ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam membangun sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga negara guna memperkuat pengawasan partisipatif serta meningkatkan kualitas demokrasi. Dalam pertemuan tersebut, Bawaslu Kota Yogyakarta menegaskan pentingnya kolaborasi dengan perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam mendorong keterlibatan akademisi dan mahasiswa sebagai bagian dari gerakan pengawasan masyarakat untuk menjaga integritas demokrasi.

Kampus diharapkan menjadi ruang tumbuhnya kesadaran kritis sekaligus wadah partisipasi aktif mahasiswa dalam mengawal proses demokrasi. Melalui kolaborasi ini, mahasiswa tidak hanya menjadi objek edukasi, tetapi juga subjek yang terlibat langsung dalam praktik pengawasan partisipatif di tengah masyarakat.
Dalam diskusi yang berlangsung, kedua pihak membahas berbagai peluang kerja sama yang dapat dikembangkan ke depan. Program-program tersebut mencakup edukasi kepemiluan, penyelenggaraan diskusi akademik, hingga pelibatan mahasiswa dalam gerakan pengawasan partisipatif di masyarakat.
Kegiatan ini menjadi langkah awal bagi STPMD “APMD” Yogyakarta dalam memperkuat peran akademik dan sosialnya, khususnya dalam mendukung terciptanya demokrasi yang berintegritas. Sinergi antara dunia akademik dan lembaga pengawas pemilu ini diharapkan mampu menghadirkan kontribusi nyata dalam menjaga kualitas demokrasi melalui keterlibatan aktif civitas akademika (N).