Wisuda April 2026 STPMD APMD: Menjadi Sarjana Rakyat yang Berpihak pada Rakyat

YOGYAKARTA, – Sebanyak 87 wisudawan dan wisudawati dari berbagai daerah di Indonesia resmi dikukuhkan dalam Wisuda April 2026 Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD”. Momentum ini tidak sekadar menjadi penanda berakhirnya masa studi, tetapi juga menjadi awal dari fase pengabdian nyata di tengah masyarakat, khususnya dalam pembangunan desa dan pemberdayaan rakyat.
Para lulusan yang berasal dari beragam latar belakang sosial dan geografis diharapkan mampu membawa ilmu yang diperoleh selama perkuliahan untuk memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Lebih dari itu, mereka didorong agar kehadirannya dapat memberikan dampak konkret dalam pembangunan daerah dan desa, yang hingga kini masih menghadapi berbagai tantangan struktural dan ketimpangan.
Dalam sambutannya, Ketua STPMD “APMD” menegaskan bahwa gelar sarjana yang disandang oleh para wisudawan bukanlah sekadar simbol akademik, melainkan mandat moral untuk berpihak kepada rakyat. Ia mengingatkan bahwa kampus ini dikenal sebagai “kampus sarjana rakyat”, sehingga setiap lulusannya harus memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kepentingan masyarakat kecil.
“Selamat kepada para wisudawan dan wisudawati yang telah berjuang dari tempat yang membosankan namun bermakna. Ada yang lulus, ada yang lolos. Saya berpesan, berbicaralah tentang rakyat. Rakyat itu memiliki dua pengertian, yaitu wong deso dan wong cilik. Sejak zaman Yunani hingga hari ini, rakyat jelata kerap direndahkan oleh elit, oleh mereka yang merasa besar dan terpelajar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa justru dari rakyatlah sumber kebaikan dan kebajikan itu berasal. Oleh karena itu, seorang sarjana rakyat harus mampu mengedepankan nilai kebaikan di atas sekadar kebenaran formal.
“Sarjana rakyat itu mengutamakan kebaikan daripada kebenaran. Syukur-syukur kita bisa mempertemukan kebaikan dan kebenaran, yang kemudian kita sebut sebagai kebajikan,” tegasnya.
Senada dengan itu, Dewan Pembina Yayasan Pengembangan Pendidikan 17 menekankan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan langkah awal dalam perjuangan panjang untuk rakyat. Ia menegaskan bahwa alumni STPMD “APMD” harus tampil sebagai pelopor pembangunan desa, yang mampu hadir di garis depan dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat.

“Wisuda ini adalah langkah awal perjuangan kita untuk rakyat. Kampus ini adalah kampus kerakyatan, sehingga saudara-saudara memikul tugas yang tidak ringan. Ketika berhadapan dengan masyarakat, Anda harus menjadi pelopor terdepan di desa. Kuncinya adalah konsistensi dalam perjuangan,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Keluarga Alumni (KAPEMADA) dalam pernyataannya menyoroti bahwa para lulusan kini telah memasuki fase pengabdian sesungguhnya. Dunia nyata, menurutnya, menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan ruang kelas.
“Kita sebagai alumni menghadapi banyak tantangan, dan tugas kita adalah mencari solusi atas tantangan tersebut. Kaum marjinal harus selalu kita bela sebagai bentuk ideologi pembebasan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa orientasi pendidikan di STPMD “APMD” tidak berhenti pada transfer pengetahuan, melainkan pada pembentukan kesadaran kritis dan keberpihakan ideologis kepada kelompok yang selama ini terpinggirkan.
Wisuda kali ini juga mencerminkan keberagaman Indonesia, dengan para lulusan yang datang dari berbagai daerah, membawa pengalaman dan perspektif yang berbeda. Modal sosial ini diharapkan menjadi kekuatan dalam membangun jejaring pengabdian yang lebih luas dan kolaboratif di berbagai wilayah.
Dengan bekal akademik dan nilai-nilai kerakyatan yang ditanamkan selama masa studi, para wisudawan diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya adaptif terhadap tantangan zaman, tetapi juga tetap teguh dalam prinsip keberpihakan kepada rakyat.
Pada akhirnya, wisuda April 2026 ini bukan hanya seremoni akademik, melainkan penegasan komitmen bahwa pendidikan tinggi harus kembali pada hakikatnya: mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus membebaskan masyarakat dari berbagai bentuk ketidakadilan. Para sarjana rakyat dari STPMD “APMD” kini ditantang untuk membuktikan bahwa ilmu yang mereka miliki benar-benar hidup dan bekerja di tengah rakyat.

“Bawaslu Masuk Kampus: Membangun Sinergi untuk Demokrasi Partisipatif”

STPMD “APMD” Yogyakarta menerima kunjungan audiensi dari Bawaslu Kota Yogyakarta dalam rangka konsolidasi demokrasi dan penjajakan kerja sama pada Rabu, 10 Maret 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang STPMD “APMD” Yogyakarta ini dihadiri oleh Ketua dan Anggota Bawaslu Kota Yogyakarta bersama sivitas akademika kampus.
Audiensi ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam membangun sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga negara guna memperkuat pengawasan partisipatif serta meningkatkan kualitas demokrasi. Dalam pertemuan tersebut, Bawaslu Kota Yogyakarta menegaskan pentingnya kolaborasi dengan perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam mendorong keterlibatan akademisi dan mahasiswa sebagai bagian dari gerakan pengawasan masyarakat untuk menjaga integritas demokrasi.

Kampus diharapkan menjadi ruang tumbuhnya kesadaran kritis sekaligus wadah partisipasi aktif mahasiswa dalam mengawal proses demokrasi. Melalui kolaborasi ini, mahasiswa tidak hanya menjadi objek edukasi, tetapi juga subjek yang terlibat langsung dalam praktik pengawasan partisipatif di tengah masyarakat.
Dalam diskusi yang berlangsung, kedua pihak membahas berbagai peluang kerja sama yang dapat dikembangkan ke depan. Program-program tersebut mencakup edukasi kepemiluan, penyelenggaraan diskusi akademik, hingga pelibatan mahasiswa dalam gerakan pengawasan partisipatif di masyarakat.
Kegiatan ini menjadi langkah awal bagi STPMD “APMD” Yogyakarta dalam memperkuat peran akademik dan sosialnya, khususnya dalam mendukung terciptanya demokrasi yang berintegritas. Sinergi antara dunia akademik dan lembaga pengawas pemilu ini diharapkan mampu menghadirkan kontribusi nyata dalam menjaga kualitas demokrasi melalui keterlibatan aktif civitas akademika (N).

Mahasiswa STPMD APMD Ikuti Upacara HPKN 2026 di Mandala Krida Yogyakarta

Mahasiswa STPMD APMD Yogyakarta turut ambil bagian dalam Upacara Peringatan Hari Penegakan Kedaulatan Negara (HPKN) Tahun 2026 yang digelar di Stadion Mandala Krida pada Minggu, 1 Maret 2026. Kegiatan ini dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai inspektur upacara dan diikuti oleh berbagai unsur peserta, mulai dari pelajar tingkat SMP, SMA, mahasiswa, hingga Aparatur Sipil Negara (ASN).
Mahasiswa STPMD APMD tergabung sebagai bagian dari pasukan upacara, menunjukkan keterlibatan aktif generasi muda dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan. Seluruh peserta mengenakan kalung janur kuning sebagai simbol perjuangan dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, yang merepresentasikan identitas, persatuan, dan strategi para pejuang saat mempertahankan kedaulatan bangsa.
Keterlibatan mahasiswa STPMD APMD dalam upacara ini memiliki makna historis yang kuat. Hal ini berkaitan dengan peran Tentara Pelajar sebagai salah satu elemen pejuang dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, sekaligus sebagai pendiri STPMD APMD pada tahun 1965. Dengan demikian, STPMD APMD dapat dipandang sebagai “monumen hidup” pendidikan yang diwariskan oleh para eks Tentara Pelajar sebagai bentuk dedikasi terhadap bangsa pasca-kemerdekaan.
Upacara berlangsung khidmat dan dilanjutkan dengan pertunjukan teatrikal bertajuk “Ada Asa 6 Jam di Jogjakarta” yang mengangkat kembali peristiwa heroik tersebut. Kegiatan ini menjadi momentum reflektif sekaligus edukatif bagi seluruh peserta, termasuk mahasiswa, untuk terus menumbuhkan semangat kebangsaan dan tanggung jawab dalam menjaga kedaulatan negara (N).

LPM Teropong Gelar Diskusi Buku “Memori Perempuan Berjuang Melawan Tiran” di STPMD APMD

HUMAS APMD, YOGYAKARTA – (Rabu, 14/02/2025) LPM Teropong menggelar diskusi dan bedah buku berjudul “Memori Perempuan Berjuang Melawan Tiran” di Hall STPMD APMD. Acara ini menjadi signifikan karena buku tersebut merupakan salah satu dokumentasi penting tentang perjuangan perempuan dalam melawan rezim otoriter pada masa silam.

Dalam perannya sebagai fasilitator, LPM Teropong menghadirkan tiga narasumber yang juga berkontribusi dalam karya tersebut, yaitu Erna Wati (aktivis/ entrepreneur), Siti Sumaryatiningsih (Akademik STPMD”APMD”), dan Iroy Mahyuni (Social Movement Institute). Ketiga pembicara berbagi pengalaman mereka sebagai aktivis serta memberikan pandangan mendalam tentang isi buku tersebut. Acara ini di moderatori oleh Ancik Masir yang merupakan mahasiswa aktif STPMD “APMD” yang tergabung dalam LPM Teropong APMD.

Dalam diskusi, para narasumber menekankan beberapa poin krusial yang dibahas dalam buku, diantaranya perspektif tentang perlawanan perempuan, upaya membongkar ‘dapur revolusi’ dari sayap kiri, serta dinamika politik perempuan. Mereka juga berbagi banyak pesan dan kesan mendalam terkait perjuangan yang didokumentasikan dalam buku tersebut. Seperti “Jangan pernah berhenti mencintai Tuhan” pesan yang disampaikan oleh Erna Wati seorang aktivis.

Buku ini dianggap sebagai karya penting yang mengungkap narasi sejarah perjuangan perempuan yang selama ini kurang terdokumentasi dengan baik, memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk memahami peran perempuan dalam gerakan perlawanan terhadap tirani. Buku “Memori Perempuan Berjuang Melawan Tiran” merupakan karya dokumentatif yang menghadirkan narasi perjuangan perempuan Indonesia melawan rezim otoriter. Karya ini menggali pengalaman personal sekaligus kolektif para perempuan aktivis yang berjuang pada masa ketika kebebasan berpendapat dan berorganisasi sangat dibatasi. Karya ini menggarisbawahi peran vital perempuan yang sering terlupakan dalam historiografi perlawanan politik di Indonesia. Melalui kumpulan kesaksian dan analisis, buku ini mengungkap bagaimana perempuan tidak hanya menjadi pendukung perjuangan, tetapi juga motor penggerak di balik berbagai gerakan penentangan terhadap tirani.

Salah satu keunikan buku ini yang dibahas dalam acara diskusi ini adalah pendekatan “membongkar dapur revolusi dari sayap kiri” yang menampilkan strategi dan taktik perempuan dalam mengorganisir gerakan perlawanan. Buku ini memperlihatkan bahwa perempuan memiliki metode perjuangan yang khas dan efektif, meskipun sering beroperasi dari ruang-ruang yang tidak disorot. Karya ini juga menganalisis kompleksitas politik perempuan yang harus menghadapi dua front perlawanan sekaligus: melawan rezim otoriter dan melawan struktur patriarki dalam masyarakat, bahkan terkadang dalam gerakan perlawanan itu sendiri. Ketiga narasumber membagikan pengalaman mereka menghadapi intimidasi, diskriminasi, dan persekusi.

Buku ini tidak hanya merekam peristiwa masa lalu, tetapi juga menawarkan refleksi tentang perjuangan berkelanjutan untuk kesetaraan gender dan keadilan sosial. Pengalaman para aktivis perempuan ini menjadi pembelajaran berharga tentang ketangguhan, solidaritas, dan strategi kreatif dalam menghadapi penindasan. Sebagai dokumentasi sejarah, karya ini mengisi kekosongan dalam catatan resmi perjuangan kemerdekaan dan demokratisasi Indonesia yang sering mengabaikan kontribusi perempuan. Melalui narasi yang personal dan otentik, buku ini diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk memahami dinamika perjuangan masa lalu dan melanjutkan perjuangan untuk Indonesia yang lebih adil dan setara.(skr)

LKMM 2025

HUMAS APMD, YOGYAKARTA  – (Rabu, 23/01/25) “Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM) Tahun 2025 Bekali Mahasiswa Dengan Keterampilan Manajemen”. Kegiatan Tahunan Semester Ganjil Kampus Sarjana Rakyat STPMD “APMD” Yogyakarta.

Guna membekali para mahasiswa di era globalisasi di abad 21 yang tentunya semakin kompetitif di berbagai bidang kehidupan, dengan ini UPT-PKP (Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Karir dan Pelatihan) STPMD “APMD” Yogyakarta yang memang bertugas menyelenggarakan berbagai pelatihan untuk para mahasiswa, kali ini mengadakan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM). Utamanya kegiatan ini ditujukan untuk mahasiswa agar mereka dapat bersaing dan menyesuaikan perkembangan jaman dengan kemampuan memimpin dengan cara memberikan kesempatan kepada mereka mengembangkan kemampuan manajerial. Serta membekali mahasiswa dengan kemampuan kepemimpinan dan manajerial yang sesuai dengan tanggung jawab masing-masing. Secara spesifik, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan keterampilan manajerial, memiliki sikap tanggung jawab, kejujuran, kemandirian, dan kemampuan bekerja sama, serta jiwa kewirausahaan. Selain itu, mereka juga diharapkan memiliki orientasi pada prestasi, kemampuan berpikir ilmiah dalam praktik organisasi, kesadaran berbangsa dan bernegara, serta kompetensi yang utuh sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Adanya pelaksanaan LKMM memang agar mahasiswa selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya mendapat teori di kelas, tetapi juga berlatih praktik soft skill yang pastinya berguna untuk menghadapi tantangan kehidupan perkuliahan dan dunia kerja nantinya.

dosen sebagai instruktur. Pada hari pertama, mahasiswa mendapatkan materi dan fun games, lalu di hari kedua terdapat penugasan pembuatan video berkelompok LKMM dan topik yang sudah ditentukan, sebagai bentuk penilaian. Peserta LKMM diajak untuk menggabungkan teori dan praktek pada hari pertama, dengan sesi materi yang diselingi fun games, membahas persepsi dan kesalahan berpikir. Diskusi ini kemudian berkembang ke materi sesi kedua bersama Fadjarini Sulistyowati, S.IP., M.Si, mempelajari “Keterampilan Berkomunikasi” dengan topik dasar literasi digital, mendengar aktif, dan berbicara efektif yang kemudian dilanjut dengan sesi ketiga bersama Ameylia Puspita Rosa Dyah Ayu Arintyas, S. Fil, M.Sc, memetakan materi “Pola Pikir Prestatif” seputar dasar-dasar konsep AKU (Ambisi, Kenyataan, dan Usaha) serta  Sasaran, resiko, dan konsekuensi. Terakhir di sesi keempat mendapatkan materi “Pengenalan Diri” mengenai KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia), pengenalan dan pengembangan diri, yang dimentori oleh Lalu Bintang Wahyu Putra, S.S., M.A. Keseluruhan instruktur merupakan perwakilan dosen pengajar di keempat program studi jenjang S1 dan D3 yakni Ilmu Pemerintahan, Ilmu Komunikasi, Pembangunan Sosial, dan Pembangunan Masyarakat Desa. Melanjutkan kegiatan hari pertama, peserta LKMM pada hari kedua mengerjakan tugas kelompok pembuatan video kreatif dengan ketentuan isi kesesuaian topik, kreativitas, dan pemahaman materi. Pengumpulan tugas video juga akan dilombakan dengan tawaran video terbaik akan mendapatkan hadiah menarik dari UPT-PKP. Nantinya keseluruhan rangkaian kegiatan LKMM, seluruh peserta akan mendapatkan penilaian dan sertifikat sebagai bukti sudah mengikuti rangkaian LKMM.

Akhir sesi oleh Wakil Ketua III Manajemen Bidang Organisasi dan Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa, Tri Agus Susanto, S.Pd.,M.Si, berkomentar, “Kenali, temukan, kembangkan manajemen diri anda sendiri, ini berguna pada saat berkehidupan pada situasi apapun, karena jika anda pandai tidaklah cukup, karena persaingan saat ini sangat dahsyat, maka dari itu anda harus menguasai skill praktik, pengalaman, dan aktif untuk nilai plus, agar nantinya cakap dan mampu bekerja sama, senang berkolaborasi di lintas bidang”. Dengan demikian, LKMM diharapkan dapat membekali mahasiswa dengan kemampuan manajemen diri yang mumpuni untuk menghadapi persaingan global.

KULIAH PRAKTIK “Negara dan Masyarakat Sipil”

HUMAS APMD, YOGYAKARTA – (Senin, 11/06/2024) Program Studi Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD” Yogyakarta melaksanakan Kuliah Praktik. Kuliah praktik Prodi IP yang dilaksanakan pada semester Genap TA. 2024/2025 merupakan mata kuliah “Negara dan Masyarakat Sipil”, diampu oleh Junior Hendri Wijaya, S.IP.,M.I.P dan Ria Anisa. S.IP.,M.A. Kunjungan kuliah praktik Negara dan Masyarakat Sipil bertempat di Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Daerah Istimewa Yogyakarta. Dihadiri oleh  66 Mahasiswa serta 4 orang dari pihak BK3S.

BK3S dipilih dikarenakan termasuk dalam Organisasi Non Pemerintah atau NGO, yang sesuai dan berkaitan dengan mata kuliah Negara dan Masyarakat Sipil, terutama dalam bagian masyarakat sipil itu sendiri. BK3S sebagai badan yang mengkoordinir dan bekerjasama dengan Pemerintah DIY untuk Mengkoordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial; Mengembangkan Model Pelayanan Kesejahteraan Sosial; Menyelenggarakan Forum Komunikasi; Bimbingan dan Konsultasi Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial; Menggali Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial dan Pembinaan dan Penumbuhan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) di DIY. Tentunya tepat dipilih sebagai tempat kunjungan pelaksanaan kuliah praktik agar mahasiswa Prodi IP STPMD “APMD” mendapat informasi serta pengalaman secara langsung mengenai negara dan masyarakat sipil.

Kuliah Praktik ini berlangsung selama 5 jam dari pukul 09.00 s/d pukul 14.00 dengan antusiasme yang tinggi dari para peserta dengan melemparkan berbagai pertanyaan dan diskusi yang dijawab dengan baik dan jelas oleh pihak BK3S D.I. Yogyakarta. Setelah kegiatan kuliah praktik ini tentunya terdapat luaran yang wajib dikerjakan oleh mahasiswa yaitu dengan membuat laporan kunjungan dengan topik yang bisa mereka pilih dan disesuaikan. kemudian tugas ini akan diakui sebagai penilaian Ujian Akhir Semester mata kuliah Negara dan Masyarakat Sipil. (vv)

Acara DIES NATALIS “APMD” ke 53

Sapa Alumni Prodi PMD

HUMAS APMD, YOGYAKARTA – Prodi Pembangunan Masyarakat Desa STPMD ”APMD” Yogyakarta kembali melakukan kegiatan Sapa Alumni di Daerah Yogyakarta.

Sapa Alumni merupakan kegiatan yang diadakan oleh pengurus Prodi Pembangunan Masyarakat Desa sejak tahun 2020, seperti yang telah diketahui para alumni Prodi PMD telah tersebar  hampir di seluruh daerah di Indonesia. Kegiatan Sapa Alumni dimulai dengan pertemuan daring melalui zoom agar mencakup daerah yang tidak bisa di jangkau secara offline, seperti daerah yang berada di luar pulau jawa. Setelahnya, pada tahun 2023 sapa alumni mulai dilakukan dengan kunjungan pada setiap daerah khususnya di DIY, sehingga para alumni dapat saling sapa secara langsung.

Pada Sabtu, 16 September 2023 bertempat di Pendopo Embung Kali Aji, Sangurejo, Kalurahan Donokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman. Kegiatan ini bertemakan “Memperkuat Tali Silahturahmi dan Mengembangkan Jejaring Program Studi PMD Jenjang D-III Bersama Alumni”. Dihadiri oleh Ir. Rini Dorodjati M.S selaku ketua Prodi PMD, Hery Purnomo,S. Sos. M.P.A selaku sekertaris Prodi PMD, dosen-dosen Prodi PMD, sekretariat Prodi PMD dan alumni prodi PMD di Kalurahan Wonokerto.

Dalam sambutanya Ibu Rini Dorodjati mengatakan, “Saat ini kami menginovasi dengan tatap muka langsung dengan alumni, yang sebelumnya beberapa waktu lalu kami telah menyapa alumni di kelas Panggungharjo di Kabupaten Bantul, tepatnya di Joglo Pring, Guwosari.”

Selain mengadakan kegiatan sapa alumni, Prodi PMD mempunyai maksud dan tujuan lain, yakni untuk kegiatan akreditasi Prodi PMD yang akan dilakukan tahun yang akan datang.

“Tahun depan Prodi PMD akan di akreditasi, tahun 2019 akreditasi terakhir Prodi PMD dan tahun 2024 akan di akreditasi ulang. Peraturan yang terakhir akreditasi secara otomatis, sehingga tidak mendatangkan review datang ke kampus atau mengumpulkan mahasiswa, tetapi mereka akan mengetahui aktivitas dari prodi kemudian mereka akan langsung mengecek untuk ditanya langsung sehingga mereka akan menetapkan akreditasi.” Lanjut Ibu Rini Dorodjati

Kegiatan Sapa Alumni di Kalurahan Wonokerto diterima baik oleh alumni, sehingga acara berlangsung secara meriah dengan canda tawa dari alumni. Acara tersebut dilanjutkan dengan perkenalan dosen Prodi PMD, perkenalan dan kesan pesan oleh para alumni, dan dilanjutkan dengan ramah tamah (game) acara diakhiri dengan berdoa dan foto bersama.

Dalam sambutan Bapak Tomon Hariosobo mengatakan, “Apa yang di upayakan oleh APMD melalui program pamong alhamdulillah yang di wonokerto 80 % saya sampaikan berhasil, artinya berhasil dia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, mendapatkan perkerjaaan yang diinginkan”.

“Saya ucapkan terimakasih atas mungkin ada jiwa dedikasi untuk membangun tradisi belajar bagi teman-teman akan menurun kepada keluarga mereka, ilmu yang didapatkan selalu bermanfaat. Harapan saya yang kedepan ilmu yang di punyai teman-teman bisa lebih berkembang.” Lanjutnya. (Dna)

SELEKSI PERANGKAT DESA SIDOLUHUR SLEMAN

Panitia Pengangkatan Pamong Kalurahan Sidoluhur Kapanewon Godean Kabupaten Sleman DIY bekerjasama dengan Pusat Pengembangan Kapasitas Aparatur Pemerintah Desa (PPK-APD) Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” Yogyakarta menyelenggarakan Seleksi Pamong Kalurahan (Seleksi Perangkat Desa) pada pada hari Sabtu tanggal 18 Juni 2022. Pelaksanaan Seleksi  bertempat di Lab. Komputer Gedung SMP Negeri 1 Godean. Formasi/lowongan Pamong Kalurahan yang diperebutkan adalah Dukuh (Kepala Dusun) Ngabangan diikuti 4 calon/peserta dan Dukuh Tebon diikuti 4 calon/peserta.

Tim Penguji adalah dosen-dosen STPMD “APMD” dibantu tenaga kependidikan (Tendik) STPMD “APMD”. Seleksi Perangkat Desa di Kabupaten Sleman mengacu pada Peraturan Daerah Kabupaten Sleman nomor 10 tahun 2019 tentang Tata Cara Pengisian dan Pemberhentian Perangkat Desa. Ujian/seleksi meliputi Ujian Tertulis yakni Tes Potensi Akademik dan Tes Kemampuan Bidang; Ujian Keterampilan meliputi: Praktik Komputer, Praktik Pidato dalam Bahasa Jawa; Tes Psikologi; dan Tes Wawancara.

Berdasarkan Perda 10/2019, nilai hasil ujian yang diperoleh masing-masing peserta selanjutnya di bobot dengan rincian sebagai berikut: Bobot Nilai Ujian Tertulis sebesar 40 (empat puluh); Bobot Nilai Ujian Keterampilan sebesar 25 (dua puluh lima); Bobot Nilai Tes Psikologi sebesar 25 (dua puluh lima); dan Bobot Nilai Tes Wawancara sebesar 10 (sepuluh). Hasil nilai ujian tersebut selanjutnya digabung dengan nilai lokal dan nilai pengabdian kepada masyarakat yang dimiliki oleh masing-masing peserta. Nilai lokal ditetapkan oleh Panitia (Desa) berdasarkan bukti-bukti resmi masing-masing peserta. Pelaksanaan ujian berjalan dengan lancar dan sukses. Berikut ini pemenangnya:  Dukuh Ngabangan, nilai tertinggi diraih oleh  Riyan Ardiyan Yoga Pratama (nilai final sebesar 88,10) dan Dukuh Tebon, nilai tertinggi diraih oleh  Megandi Hadmijudo (nilai final sebesar 80,40). Kami segenap Tim Penguji mengucapkan selamat kepada pemenang, semoga saudara dapat menjalankan tugas sebagai Dukuh (Kepala Dusun) dengan sebaik-baiknya.

Pembangunan Sosial Berkeadilan

Bupati Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung H. Sahani Saleh S.Sos menyampaikan Kuliah Tamu di STPMD “APMD” Yogyakarta (8/6). Alumnus Pembangunan Sosial STPMD “APMD” itu mengaku hanya berbagi pengalaman selama memimpin daerah. Pada kesempatan itu juga ditandatangani nota kesepahaman antara STPMD “APMD” Yogyakarta dengan Kabupaten Belitung oleh Sahani Saleh dan Ketua APMD Dr. Sutoro Eko. Moderator dalam kegiatan ini adalah Dr. Widi Sri Widayanti.

Sahani Saleh mempunyai pengalaman panjang di pemerintahan daerah. Setelah dua periode menjadi camat di dua kecamatan berbeda di Belitung, pada 2008-2013 menjadi Wakil Bupati Belitung, kemudian menjadi Bupati Belitung selama dua periode (2014-2018) dan (2018-2023).

Sahani Saleh menyampaikan topik Manifestasi kinerja efektif dalam Pembangunan Sosial Berkeadilan. Ia sebelumnya sekilas mengenalkan Kabupaten Belitung dengan segala potensinya serta prioritas pembangunan. Kabupaten ini luasnya 293,69Km2 dan berpenduduk 184.004 jiwa (2021). Penduduk Belitung selain dihuni oleh suku Melayu juga dari suku lain seperti Tionghwa, Jawa, Bugis, Madura, Bawean, Batak, Bali dan lain-lain.

Dijelaskan bahwa Belitung bangga menjadi daerah yang sedang dikembangkan sebagai Daerah Tujuan Wisata Unggulan yang dikembangkan oleh pemerintah pusat. Termasuk mengembangkan GeoPark di dalamnya. Belitung juga bangga terpilih menjadi tuan rumah dalam rangkaian kegiatan KTT G20. Tiga sektor unggulan daerah adalah pariwisata, perikanan dan kelautan, dan perhubungan.

Terkait kondisi keamanan dan kesejahteraan, Sahani Saleh memberi ilustrasi, “Pak Ketua APMD membeli motor baru di Belitung. Suatu saat motor diparkir di pinggir jalan dan tertinggal kuncinya. Jika motor itu hilang, maka akan saya ganti sepuluh motor,” jelasnya disambut tepuk tangan hadirin. Hal itu menunjukkan tingkat kriminalitas sangat rendah. Apakah karena masyarakat di Belitung sejahtera? Pak Bupati kembali bercerita jika ada bantuan dari pemerintah, maka ibu-ibu yang menerima bantuan itu datang dengan gelang dan kalung serba emas.

Mengenai pembangunan sosial berkeadilan, Bupati Belitung menjelaskan harus ada interaksi antara pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Hal itu demi tercapainya tujuan-tujuan program pembangunan berkelanjutan. Ia mengutip seorang ahli, bahwa pembangunan sosial berkeadilan itu suatu upaya terkoordinasi untuk menciptakan alternatif yang lebih banyak secara sah kepada warga negara untuk memenuhi dan mencapai aspirasinya yang paling manusiawi. Visi Kabupaten Belitung adalah Kabupaten Belitung sejahtera, berdaya saing, inovatif dan bermartabat.

Sutoro Eko yang menjadi narasumber kedua mengatakan telah lama berkomunikasi dengan Sahani Saleh yang dikenalkan oleh Ahmad Muqowam (Ketua Pansus RUU Desa). Ia mengajak Suhani Saleh pulang kampus ke STPMD “APMD” Yogyakarta.

Sutoro Eko menjelaskan konteks sejarah lahirnya kebijakan sosial di Eropa dan Amerika Serikat. Dimulai dari Jerman era Otto Von Bismark ketika gerakan buruh yang diorganisir oleh Karl Marx menggoncang negeri itu. Negara (Jerman) akhirnya mau membuat kebijakan sosial memberi jaminan sosial yang menguntungkan kaum buruh. Ini dilakukan bukan karena kapitalisme baik hati tetapi itu demi keamanan kapitalisme sendiri. Kebijakan ini dilakukan agar buruh Jerman tidak menjadi pengikut Karl Mark dan Jerman tidak jatuh seperi Uni Sovyet. Kebijakan sosial ini menjadikan kapitalisme aman. Apa yang dilakukan di Jerman itu kemudian diikuti oleh negara-negara Skandinavia yang kini dikenal sebaga negara kesejahteraan terutama setelah perang dunia kedua.

Dari Amerika Serikat, pada era Harry Truman, di mana setelah perang dunia kedua negeri itu mengekspor Pembangunan Sosial. Pembangunan Sosial ala AS adalah mengatasi dampak sosial yang ditimbulkan oleh pembangunan ekonomi. Kerjaannya mengurusi orang miskin. Pendekatannya mengatasi kemiskinan dengan kemiskinan. Pembangunan ekomomi hanya berhasil menciptakan kekayaan tapi tidak berhasil menciptakan kemakmuran. Cara mengatasi masalah sosial di sini dengan cara sosial, bukan dengan cara ekonomi. Dengan cara ini kesenjangan akan tetap tercipta. Contoh ekonomi kerakyatan. Rakyat diisolasi dengan ekonomi yang kecil.

Pascapembangunan, lanjut Sutoro Eko, mengritik pembangunan sosial dan pemberdayaan masyarakat yang anti politik. Kemakmuran dan keadilan tidak bisa hadir tanpa politik. Kata Pascal, keadilan tanpa kekuasaan itu nothing, kekuasaan tanpa keadilan akan menciptakan tirani. Kekuasaan itu tidak buruk, tapi kekuasaan yang berdasarkan daulat rakyat. Jadi, tegas Sutoro Eko, Pembangunan sosial jangan anti politik dan jangan anti ekonomi.