Sarasehan, Launching Buku dan Alumni Pulang Kampus: 60 Tahun STPMD, “Kampus Sarjana Rakyat Untuk Republik”

13 November 2025, Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” menggelar sarasehan, peluncuran buku, dan agenda “alumni pulang kampus” dalam rangka memperingati 60 tahun berdirinya lembaga pendidikan tersebut. Mengusung tema “60 Tahun STPMD “APMD” Kampus Sarjana Rakyat untuk Republik”, kegiatan ini menjadi momentum refleksi perjalanan panjang institusi yang berpihak pada rakyat, khususnya masyarakat desa.


Ketua STPMD “APMD” menegaskan bahwa peringatan enam dekade ini bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi mendalam atas akar historis, etika, dan cita-cita republikanisme yang melandasi berdirinya kampus tersebut.
Menurut Sutoro, terdapat tiga realitas utama yang melatarbelakangi lahirnya STPMD “APMD”. Pertama, keterlibatan para pendiri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia bersama rakyat desa. Dari pengalaman itu tumbuh kesadaran etik untuk “membalas budi” kepada rakyat, terutama dengan membuka akses pendidikan tinggi bagi kalangan bawah yang selama ini terpinggirkan.
“Dulu, kuliah adalah barang mewah bagi rakyat. Maka APMD hadir untuk memastikan rakyat jelata juga memiliki akses terhadap pendidikan tinggi,” ujarnya.
Realitas kedua, lanjut Sutoro, adalah komposisi mahasiswa yang mayoritas berasal dari kalangan rakyat kecil, seperti anak petani, nelayan, dan buruh dari berbagai daerah di Indonesia. Meski terdapat mahasiswa dari keluarga aparatur sipil negara, sebagian besar hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Adapun realitas ketiga berkaitan dengan paradoks dalam praktik kenegaraan. Secara konstitusional, negara memuliakan rakyat, tetapi dalam praktiknya, rakyat kerap hanya menjadi objek politik. “Rakyat sering dibicarakan secara populis oleh elite, bukan diposisikan secara republikan sebagai subjek utama,” kata Sutoro.
Berangkat dari tiga realitas tersebut, STPMD “APMD” berupaya menghadirkan konsep “Sarjana Rakyat” sebuah proses pembelajaran yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga teleologis, metodologis, dan pedagogis. Pendidikan dipandang sebagai proses “menjadi”, bukan hasil akhir yang statis.

Kegiatan sarasehan yang berlangsung pada 13 November 2025 ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan daerah, di antaranya Natalius Pigai, Eman Suherman, Hermus Indow, Orideko Iriano Burdam, Sri Rahayu, serta Arie Sujito. Selain itu, hadir pula perwakilan pemerintah daerah, akademisi, kepala desa, serta alumni yang kini berkiprah di berbagai sektor.
Acara ini juga dimeriahkan dengan peluncuran tujuh buku karya dosen dan sivitas akademika STPMD “APMD” sebagai wujud kontribusi intelektual dalam memaknai perjalanan kampus. Beberapa judul yang diluncurkan antara lain Menimbang Ulang Governance, Informasi Tanpa Komunikasi, Melampaui Koperasi Rakyat, Negara Minus Warga Negara, hingga Dekolonisasi Pembangunan Desa karya Putera Perdana, serta Desa Antara Utopia, Realita dan Protopia. Seluruh buku tersebut diberi pengantar oleh Sutoro Eko.
Selain sarasehan dan peluncuran buku, kegiatan juga diramaikan dengan pameran karya Tri Dharma perguruan tinggi yang menampilkan hasil penelitian, pengabdian masyarakat, dan inovasi mahasiswa.
Bagi STPMD “APMD”, enam dekade perjalanan bukan sekadar penanda usia, melainkan penegasan identitas sebagai kampus yang lahir dari, oleh, dan untuk rakyat. Pendidikan di APMD, menurut Sutoro, adalah bentuk keberpihakan nyata terhadap rakyat desa sebagai fondasi republik.
“APMD tidak lahir dari ruang kosong, tetapi dari sejarah perjuangan rakyat. Karena itu, pendidikan di sini adalah upaya memerdekakan rakyat dalam pengetahuan,

KPID Goes To CAMPUS: Kanthi Pawiyatan “Pengelolaan Penyiaran Komunitas Berbasis Pengampuan Kalurahan/Kelurahan, Mungkinkah?”

HUMAS APMD, YOGYAKARTA – (Selasa, 21/10/25) KPID Goes To CAMPUS: Kanthi Pawiyatan “Pengelolaan Penyiaran Komunitas Berbasis Pengampuan Kalurahan/Kelurahan, Mungkinkah?”

KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah) Yogyakarta menggelar acara “KPID Goes Campus” yang mengangkat tema tentang pengelolaan penyiaran komunitas berbasis pengampuan kalurahan/kelurahan. Acara ini terselenggara di ruang M. Soetopo STPMD “APMD” Yogyakarta pada sore hari, mulai pukul 15.00 hingga 17.00 dengan melibatkan mahasiswa, dosen, perangkat desa, dan penyiar komunitas sebagai peserta. Diskusi dengan tema tersebut mendatangkan narasumber yang tentu kompeten di bidang penyiaran, akademisi dan pemerintahan, yakni Arif Kurniar Rakhman, MA (Komisioner KPID DIY), Dr. Hj. Yuni Satia R, SS., MHum (Anggota Komisi A DPRD DIY dan Ketua Bapemperda DPRD DIY), dan Tri Agus Susanto S.Pd.,M.Si., selaku Wakil Ketua III Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” Yogyakarta. Pelaksanaanya didasari oleh kesadaran saat ini mengenai perlu dan pentingnya sebuah peran dari media penyiaran komunitas lokal sebagai sarana penyalur aspirasi masyarakat daerah dan kebudayaan terutama di era banjir informasi dan perubahan tren konsumsi media yang mulai beralih digital.

Ketua KPID DIY, Hazwan Iskandar Jaya, S.P.,Med.,CMT ASEAN, sebagai moderator memantik topik dengan ungkapan “Media penyiaran komunitas era ini menjadi peran wadah aspirasi bagi warga daerah masing-masing, tetapi bagaimana jika wadah pengampuan diterapkan dikalurahan/kelurahan ini bisa jadi wacana fisibel?“. Disambung dengan pernyataan Dr. Hj. Yuni Satia R, SS., MHum, Radio komunitas memegang peranan penting dalam menumbuhkan rasa cinta terhadap daerah, budaya, dan berdesa melalui siaran kebudayaan dan informasi lokal. KPID perlu memastikan pengawasan yang efektif agar radio komunitas dapat memberikan informasi terkait kelokalan, sarana pembelajaran, dan berkontribusi pada pembangunan daerah. Sedangkan Tri Agus Susanto S.Pd.,M.Si., menyoroti era saat ini yang semakin kompetitif ini siaran radio sebenarnya masih diminati dan dibutuhkan terutamanya bagi masyarakat pedesaan pelosok yang minim konsumsi media digital, dan utamanya menyiarkan mengenai komunitas seperti tani dan maupun komunitas lokal yang ada di desa yang membutuhkan informasi sesuai dengan geografisnya, tetapi jika pengampuan penyiaran komunitas diampu oleh kalurahan/kelurahan baiknya dijadikan sebagai mitra bukan dalam bentuk operasional struktur, dengan kata lain tidak dibebankan dan agar tetap akuntabel (masyarakat dapat mengkritisi kalurahan). Terakhir narasumber Arif Kurniar Rakhman, MA., memberi pernyataan jika model pengampuan haruslah dibarengi dengan konsep pengelolaan dan regulasi agar kalurahan/kelurahan dapat mengampu tanpa melanggar dan independen, serta penyiaran komunitas dapat tetap eksis. `Keseluruhan model ini dapat terlaksana tentunya dengan sinergi antar KPID DIY, DPRD DIY, Akademisi, Komunitas dan kalurahan/kelurahan.

Problematika Koperasi Desa Merah Putih: Tantangan dan Dampak Terhadap Pemerintahan Desa dan Keberlanjutan KUD dan BUMDesa

JAKARTA, 12 JUNI 2025 – Ombudsman Republik Indonesia menggelar Diskusi Publik bertajuk “Problematika Koperasi Desa Merah Putih: Tantangan dan Dampak terhadap Pemerintahan Desa dan Keberlanjutan KUD dan BUMDes”. Acara yang diselenggarakan secara hibrida ini menghadirkan Menteri Koperasi dan UKM, Budi Arie Setiadi, dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Yandri Susanto, sebagai narasumber utama untuk membahas program strategis pemerintah yang menargetkan pembentukan 80.000 koperasi di seluruh desa Indonesia.

Diskusi ini bertujuan menjadi ruang reflektif dan strategis untuk mengawal program direktif presiden tersebut, yang dipandang memiliki potensi besar sekaligus risiko maladministrasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik.

Ketua Ombudsman RI, Muhammad Najih, dalam sambutannya menegaskan komitmen Ombudsman untuk mengawal program ini. “Inisiatif seperti Koperasi Desa Merah Putih adalah bentuk inovasipelayanan publik berbasis komunitas. Namun, keberhasilannya tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Negara harus hadir, dan Ombudsman mengambil peran untuk mengawal agar tujuan-tujuan ini mencapai sasaran,” ujar Najih.

Najih juga menyoroti data laporan masyarakat terkait koperasi yang diterima Ombudsman, di mana isu pengawasan, pembinaan, dan pembentukan menjadi substansi yang paling banyak dilaporkan.

Optimisme Pemerintah dan Tantangan di Lapangan

Menteri Koperasi dan UKM, Budi Arie Setiadi, menyampaikan optimismenya bahwa program ini adalah sebuah keberanian dan langkah bersejarah. “Jangan takut, jangan curiga, dan jangan ragu-ragu. Ini adalah sejarah baru di mana satu negara membangun 80.000 koperasi desa. Tujuannya jelas: mewujudkan keadilan ekonomi dengan memotong rantai pasok yang tidak adil dan merugikan masyarakat desa,” tegas Budi Arie.

Senada dengan itu, Menteri Desa PDTT, Yandri Susanto, menyatakan bahwa program ini disambut baik oleh pemerintah desa, terbukti dari hampir 100% desa yang telahmelaksanakan Musyawarah Desa Khusus (Musdesus). “Kami melakukan dialog langsung ke daerah-daerah. Problematika seperti potensi tumpang tindih dengan BUMDes atau KUD yang sudah ada akan kami atasi melalui regulasi dan petunjuk teknis yang jelas. Lembaga yang sudah ada tidak akan dimatikan, melainkan dapat bersinergi,” jelas Yandri.

Potensi Risiko dan Kekhawatiran Publik

Sebagai pemantik diskusi, Anggota Ombudsman RI, Dadan S. Suharmawijaya, memaparkan sejumlah potensi risiko dan kekhawatiran yang berkembang di masyarakat. Beberapa di antaranya adalah:

Potensi Salah Kelola dan Korupsi: Besarnya dana yang akan digelontorkan memunculkan risiko penyalahgunaan wewenang.

Elite Capture: Kekhawatiran koperasi akan dikuasai oleh elite desa yang berkuasa saat ini.

Kekhawatiran sebagai Mesin Politik: Adanya kecurigaan program ini dapat menjadi instrumen politik untuk kepentingan elektoral.

Nasib Lembaga Eksisting: Bagaimana kolaborasi dan posisi Koperasi Unit Desa (KUD) dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang sudah berjalan baik.

“Kami mendukung program ini, asal jangan ada dusta di antara kita. Transparansi dan pengawasan menjadi kunci,” pungkas Dadan dengan sebuah pantun.

Sementara itu, Ketua Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD”, Dr. Sutoro Eko Yunanto, mengingatkan agar program ini tidak mengulangi kegagalan program serupa di masa lalu. “Jangan sampai gagal maning. Kebijakan ini harus dijalankan dengan kebajikan, bukan hanya pendekatan teknokratis berupa proyek, uang, dan aturan. Penting untuk memastikan adanya partisipasi (emansipasi) dari bawah, bukan sekadar instruksi (imposisi) dari atas,” katanya.

Tindak Lanjut dan Rekomendasi Ombudsman

Menanggapi dinamika diskusi, Ombudsman RI menyatakan akan menindaklanjuti hasil pertemuan ini dengan menyusun rekomendasi kebijakan kepada kementerian terkait. Moderator diskusi, Belinda Dewanti, menyimpulkan bahwa ada tiga poin krusial yang perlu menjadi fokus ke depan:

Penyempurnaan Petunjuk Teknis (Juknis): Perlunya juknis yang jelas untuk menghindari tumpang tindih dan memastikan sinergi dengan lembaga ekonomi desa yang sudah ada.

Partisipasi Bermakna: Menjamin keterlibatan seluruh lapisan masyarakat desa dalam proses pembentukan, pelaksanaan, hingga evaluasi.

Mekanisme Pengawasan dan Pengaduan: Membangun sarana pengaduan yang efektif dan mudah diakses oleh publik untuk melaporkan potensi maladministrasi.

Ombudsman RI berkomitmen untuk terus mengawasi implementasi Koperasi Desa Merah Putih agar dapat benar-benar menjadi pilar keadilan sosial dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa secara inklusif dan berkelanjutan.

Webinar “Empowerment VS Disempowerment: Mengkaji Ulang Arah Pemberdayaan Masyarakat Desa

HUMAS APMD, YOGYAKARTA – (Selasa, 08/06/25) Webinar “Empowerment VS Disempowerment: Mengkaji Ulang Arah Pemberdayaan Masyarakat Desa”. Diadakan oleh Prodi Pembangunan Masyarakat Desa STPMD “APMD” Yogyakarta.

Apa yang terbenak dari makna dan pelaksanaan “Pemberdayaan”, apakah selama ini sudah tepat dan benar-benar keberpihakan untuk masyarakat, maka dari itu bersama Prodi PMD STPMD “APMD” Yogyakarta dilaksanakan secara online sebuah Webinar yang mengkaji ulang arah pemberdayaan sejauh ini, apakah bentuk dari memberdayakan atau justru menciptakan ketidakberdayaan. Diskusi menarik bersama keynote Dr. Sutoro Eko Yunanto, M.Si., (Ketua STPMD “APMD”), Dr. Sri Widayanti, S.Pd.I, M.A., (Dosen STPMD “APMD”), lalu pihak eksternal yakni Ahmad Musyaddad (Sanggar Inovasi Desa) dan Gandang Hardjanata (Lurah Tamanmartani). Melalui kegiatan ini tidak hanya Sivitas Akademik STPMD “APMD” yang dapat berdiskusi secara online, tetapi mahasiswa kampus lain dan perangkat desa juga dapat mengikuti diskusi ini.

 

Keseluruhan diskusi webinar ini mengenai pemberdayaan terutama dengan fokus “pemberdayaan  masyarakat  desa”.  Dibuka  dengan  pernyataan  Siti  Sumaryatiningsih, S.Si.,M.I.P selaku dosen Prodi Pembangunan Masyarakat Desa yang menekankan pentingnya kemandirian desa, bagaimana desa bersama pemerintah benar-benar menghidupkan pemberdayaan yang berdaya dan desa mampu berkata “kami berdaya karena kami ini bisa menentukan nasib kami sendiri”. Dijelaskaan evolusi konsep “empowerment” dari gerakan feminis dan marxisme hingga menjadi jargon neoliberalisme lalu ditekankan bahwa pemberdayaan sejati adalah tentang merebut kekuasaan dan melawan penindasan oleh Dr. Sutoro Eko Yunanto, M.Si. Selanjutnya Dr. Sri Widayanti, S.Pd.I, M.A. merefleksikan pemberdayaan masyarakat desa dari perspektif akademis, mengkritik bagaimana pemberdayaan seringkali menjadi program rutin tanpa makna dan melahirkan ketidakberdayaan dengan kata lain makna “empowerment” yang terpeleset menjadi “disempowerment”. Pembicara ketiga Bapak Gandang Hardjanata berbagi pengalaman sebagai Lurah Tamamartani dalam memberdayakan masyarakat, beliau menekankan bahwa pemberdayaan masyarakat desa harus berfokus pada aspirasi dan kebutuhan nyata warga. Menurutnya, transparansi dan kepercayaan antara pemerintah desa dan masyarakat sangat penting untuk menciptakan partisipasi aktif. Beliau juga mengingatkan bahwa program pemberdayaan sering kurang tepat sasaran jika hanya bersifat top-down tanpa melibatkan warga secara langsung. Oleh karena itu, pendekatan yang holistik dan partisipatif menjadi kunci sukses pemberdayaan agar masyarakat benar-benar merasa memiliki dan mampu mengelola sumber daya serta potensi desa mereka sendiri. Terakhir pernyataan Ahmad Muhsyahdad dari Yayasan Sanggar Inovasi Desa, beliau menyoroti pentingnya inovasi dalam proses pemberdayaan masyarakat desa, bahwasannya pemberdayaan tidak hanya soal memberikan bantuan atau program, tetapi bagaimana menciptakan solusi kreatif yang sesuai dengan kondisi lokal desa serta mengingatkan agar pendekatan pemberdayaan lebih mengedepankan kemandirian dan kapasitas warga desa, bukan hanya ketergantungan pada pihak luar. Menurut beliau, peran organisasi seperti Yayasan Sanggar Inovasi Desa dibutuhkan karena memfasilitasi proses belajar dan berbagi inovasi agar desa bisa berkembang secara berkelanjutan dan mandiri.

Diskusi ini menegaskan bahwa pemberdayaan sejati harus berakar pada kemandirian, partisipasi aktif, serta penyesuaian dengan kebutuhan dan potensi lokal desa. Selain itu, pentingnya transparansi, kepercayaan, dan inovasi menjadi kunci agar program pemberdayaan tidak hanya sekedar rutinitas administratif, melainkan benar-benar memberikan dampak positif yang berkelanjutan. Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat desa harus terus dikaji ulang dan dikembangkan agar mampu memberdayakan warga secara nyata dan berkelanjutan, sekaligus menghindari jebakan disempowerment yang justru melemahkan masyarakat itu sendiri.

Pembekalan Calon Alumni STPMD “APMD” Periode April 2025

HUMAS APMD, YOGYAKARTA  – (Selasa, 10/04/25) “Pembekalan Calon Alumni STPMD “APMD” Periode April 2025 Bersama UPTPKP STPMD “APMD” Yogyakarta Dengan Pelatihan Yang Menunjang Karir Masa Depan”.

Kampus STPMD “APMD” Yogyakarta mengadakan acara tahunan yakni pelepasan calon wisudawan dan wisudawati periode April 2025.  Acara yang berkolaborasi dengan Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Karir dan Penempatan Kerja (UPTPKP) STPMD “APMD” ini tidak sekedar seremonial perpisahan, melainkan pembekalan komprehensif bagi 60 mahasiswa yang siap memasuki dunia kerja atau melanjutkan studi.  Kegiatan ini dilaksanakan sebelum mereka resmi di Wisuda untuk membekali para lulusan dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan tuntutan zaman.

UPTPKP STPMD “APMD” berperan dalam mempersiapkan para calon wisudawan.  UPTPKP menyediakan berbagai layanan, mulai dari informasi lowongan kerja dan konsultasi karir hingga berbagai pelatihan praktis.  Pelatihan yang diberikan mencakup keahlian dasar seperti komputer dan Bahasa Inggris, serta keahlian spesifik seperti Siklus Desa dan pelatihan kepemimpinan (LKMM).  UPTPKP juga bermitra dengan Jogja Education Center untuk memberikan pelatihan khusus persiapan Seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Pembekalan calon wisudawan kali ini dibagi dalam tiga sesi utama.  Sesi pertama berfokus pada strategi dan pengantar Pre-Test seleksi CPNS/BUMN, Dngan bimbingan Jogja Education Center (JEC). Para mahasiswa diberikan kesempatan untuk mencoba mengerjakan soal Pre-Test Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) yang meliputi Tes Intelegensi Umum (TIU), Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP).  Hal ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan simulasi menghadapi ujian CPNS yang sesungguhnya.

Sesi kedua memberikan informasi dan motivasi bagi calon wisudawan yang ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.  Sebagai narasumber,  Kak Iren, alumni STPMD “APMD” Prodi Ilmu Pemerintahan, sebagai  penerima Beasiswa LPDP Daerah Afirmasi yang kini melanjutkan studi Paca Sarjana Politik dan Pemerintahan di UGM, berbagi pengalaman dan tips mendapatkan beasiswa.  Ia mendorong para calon wisudawan untuk berani mengejar mimpi dan memanfaatkan berbagai peluang beasiswa yang tersedia, seperti LPDP, Beasiswa Unggulan, dan Beasiswa PBI.  “Jadikan tantangan sebagai kesempatan dan taklukkan dengan keberanianmu!” pesannya.

Sesi ketiga berfokus pada persiapan memasuki dunia kerja, khususnya bagi mereka yang tidak memilih jalur PNS.  Dosen STPMD “APMD”, Ameylia Puspita Rosa Dyah Ayu Arintyas, S.Fil, M.Sc dan Rina Ardianti, S.Sos., memberikan arahan mengenai pembuatan linkedIn dan CV yang sesuai dengan standar ATS (Applicant Tracking System), serta peluang kerja bagi lulusan APMD.  Mereka juga berbagi tips dan strategi untuk mengikuti seleksi ASN secara online.  Ibu Ameylia memberikan pesan semangat, “Semangat yaa, jalan setelah ini masih panjang, tapi teman-teman harus selalu ingat bahwa upaya yang terbaik harus ditempuh dengan berbagai jalan, tidak hanya satu jalan.”

Di akhir acara, Kepala UPTPKP STPMD “APMD”, Ibu Eko Yuningsih, S.I.Kom.,  mengajak para wisudawan untuk tetap produktif pasca wisuda dan tak lupa untuk mengisi kuesioner Tracer Study.  Data Tracer Study ini sangat penting bagi STPMD “APMD” untuk memetakan perkembangan karir alumni dan  meningkatkan kualitas pendidikan. Adanya pembekalan yang komprehensif ini, STPMD “APMD” berharap para wisudawan siap menghadapi tantangan dan meraih kesuksesan di masa depan. (VV)

Halal Bihalal STPMD APMD

HUMAS APMD, YOGYAKARTA  – (Selasa, 08/04/25) “Halal Bihalal Keluarga Besar STPMD “APMD”, Kampus Sarjana Rakyat’. Tradisi Syawalan Untuk Memperkuat Modal Sosial Dan Merawat Kepercayaan Sosial.

Momen fitri di tahun ini kembali mempertemukan elemen Civitas Akademik STPMD” APMD” dalam suasana kebersamaan melalui Halal Bihalal yang terlaksana di Ruang M. Soetopo, diisi dengan siraman rohani, ramah tamah, tentu disertai dengan pertukaran maaf penuh makna.

Dr. Sutoro Eko Yunanto, M.Si, secara filosofi mengungkapkan pentingnya tradisi syawalan sebagai bagian integral dari budaya Jawa yang telah menjadi tradisi besar di nusantara. Beliau juga menyampaikan bahwa momen ini merupakan kesempatan untuk berbagi rezeki dan memperkuat rasa solidaritas antar anggota komunitas. “Syawalan halal bihalal itu satu paket tradisi masyarakat Jawa yang menjadi tradisi besar agung nusantara, komunitas itu sangat penting, bisa menyelamatkan rakyat ketika negara tidak hadir, seperti pada saat berbagi melalui Zakat atau THR menjadi hukum sosial/kesalehan sosial dengan berbagi, karenanya Indonesia bukan hebat karena modal dan senjata, tapi karena komunitas”. Berbagai macam kebaikan yang kita lakukan jauh lebih bermakna, karena terjadi pertemuan dunia realitas (hubungan dengan manusia) dengan spiritual (hubungan dengan tuhan), ujar  Kepala STPMD “APMD” Yogyakarta.

Lalu ditambahkan sambutan  Ir. Muhammad Barori, M.Si., yang juga menekankan pentingnya memperkuat hubungan antar anggota komunitas untuk membangun modal sosial dan merawat kepercayaan sosial. Hal ini tentu dapat memperkuat dan mempertegas hablum minannas (hubungan dengan manusia), akan melancarkan hablum minallah (hubungan dengan tuhan), sebuah kekuatan sosial/modal sosial, “Setiap momentum peristiwa pasti ada hikmahnya. Syawalan ini untuk memperkuat modal sosial dan merawat kepercayaan sosial. Marilah APMD memperkuat dan merawat hubungan ini, hingga solid demi kejayaan APMD ini,” ucap Ketua YPP-17 Yogyakarta.

Berakhirnya sambutan oleh para pimpinan, beralih ke siramahan rohani yang dibawakan oleh Ustad KH. Imam Syafi’i, S.Pd.I, MM, dengan gaya khas beliau yang menyenangkan serta mudah untuk dipahami. KH. Imam Syafi’i menuturkan 5 rumus hidup dan konsep 10 A untuk kesuksesan dalam hidup. Kelima rumus hidup bersama keluarga terdiri dari Disiplin beribadah, Nyambut gawe (bekerja), Makan Minum dengan pola sehat, Berolahraga, dan Hidup berkeluarga (atau berkomunitas). Kemudian, yang tak kalah menarik yakni konsep 10 A sebagai panduan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, yang diawali dengan kunci “Apapun yang dikerjakan harus” sebagai awal kalimat, yakni harus diniatkan ibadah, dengan semangat tinggi, dengan ilmu,  terencana dan terprogram, memiliki keberanian, banyak atau sedikitnya harus ada sarana prasarana, kerja sama yang baik,  ikhlas, dan yang kesepuluh harus fokus dan disiplin. Beliau berpesan, “Jangan berhenti menjadi orang baik, Muhasabah (introspeksi diri) dan muahadah (berbicara secukupnya yang penting-penting saja)”.

Mari bersama-sama melaksanakan pesan Halal Bihalal kali ini, sebagai langkah awal untuk mewujudkan kebaikan bersama. (VV)

Transformasi Desa Dalam Mewujudkan Kesejahteraan dan KedaulatanRakyat

Yogyakarta, 15 Maret 2025. Program Studi Ilmu Pemerintahan Sekolah Tinggi
Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” bekerjasama dengan Ikatan
Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) dan The Indonesian Power for Democracy (IPD),
menyelenggarakan Kuliah Umum dan Buka Puasa Bersama dengan topik:
“Transformasi Desa Dalam Mewujudkan Kesejahteraan dan Kedaulatan Rakyat”. Kuliah
umum ini berangkat dari kenyataan bahwa Desa telah mengalami transformasi di
bawah UU No.6 Tahun 2014 yang kemudian di revisi menjadi UU No.3 Tahun 2024.
Namun, transformasi tersebut belum sepenuhnya menghantarkan desa ke pintu
gerbang kedaulatan dan kesejahteraan rakyat. Terdapat banyak kebijakan yang
dibuat oleh pemerintah pusat yang mengebiri kedaulatan dan kesejahteraan rakyat,
seperti kebijakan penggunaan dana desa untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT),
Stunting dan sebagainya, yang membuat desa menjadi kurang berwenang dalam
mengatur dan mengurus dirinya sendiri

Kuliah umum ini menghadirkan pidato pembukaan dari Ketua Sekolah Tinggi
Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” Dr. Sutoro Eko Yunanto yang
menyampaikan materi terkait: “Transformasi Kemandirian Dan Kedaulatan Desa”.
Dr. Sutoro Eko menyampaikan dua cara pandang dalam memandang desa yang
saling kontradiksi. Pertama, cara pandang esensialisme yang memandang desa
sebagai situs keaslian bagi negara bangsa-modern. Sebagai situs keaslian, desa
menyimpan dan memberi nilai-nilai yang merupakan tradisi agung untuk
memberikan inspirasi dalam pembentukan negara-bangsa. Esensialisme
memandang desa memberi nilai dan kultur yang akan membentuk sikap politik, baik
para pemimpin maupun masyarakat dalam memandang dunia maupun
memandang negara bangsa modern yang dibentuk. Selain itu, cara pandang yang
kedua adalah modernisme yang memandang desa sebagai situs yang kolot, jadul,
kuno, miskin, bodoh dan terbelakang. Akibatnya desa terus menerus digempur
dengan modernisasi dan pembangunan-pembangunan yang diklaim membawa
pertumbuhan dan kemajuan bagi desa. Realitasnya, desa diperkosa, diperalat dan
diseret menjadi semakin tidak berdaya dan berdaulat atas dirinya sendiri. Sutoro
juga menyampaikan kegagalan negara memberdayakan dan memajukan desa
karena birokratisasi dan teknokratisasi yang begitu rigid mengepung desa dengan
berbagai macam program lintas sektoral yang membatasi kewenangan pemerintah
desa. Ketika pemerintah desa gagal menjalankan program, desa dituding tidak
punya kapasitas, SDM rendah dan sebagainya. Negara membangun sambil
merusak, memajukan sambil melemahkan desa. Inilah yang saya sebut sebagai
kontradiksi,” katanya.

Ketua Presidium Ikatan Sarjana Katolik Indonesia Luky Agung Yusgiantoro,
B.Sc,.M.Sc,.Ph.D yang menyampaikan pidato pembukaan dengan materi: “Kontribusi
dan Partisipasi Sarjana Katolik Dalam Memperkuat Kedaulatan dan Kemandirian
Desa” diwakilkan oleh Sekjen ISKA Dr. Ch. Arie Sulistiono. Dr. Ch. Arie Sulistiono
mengatakan bahwa desa merupakan pintu gerbang untuk mencapai kedaulatan
dan kesejahteraan negara. Kalau desa tidak berdaulat dan tidak sejahtera, maka itu
juga menjadi ukuran negara. Negara melalui pemerintah, mesti terus didorong untuk
meningkatkan keberpihakan terhadap desa, terutama untuk memperkuat
kewenangan dan kemandirian desa. Karena itu, dia menyambut baik kegiatan
kolaborasi bersama STPMD ‘APMD’ untuk mengupayakan desa yang lebih
berdaulat dan bermartabat. Sebagai bentuk keterlibatan orang Katolik dalam
pembangunan negara, kata dia, ISKA berkomitmen memperkuat desa, karena
ketika desa kuat negara akan maju dan berkembang. “Tidak akan ada negara maju
dan berkembang kalau desanya belum adil, makmur dan sejahtera,” ungkapnya.
Ketua Umum ISKA melalui Sekjen ISKA Dr. Ch. Arie Sulistiono juga menyampaikan
bahwa ISKA menyetujui kerjasama lanjutan dalam bentuk penerbitan buku Kajian
tentang Desa.

Setelah Pidato pembukaan dilanjutkan dengan sesi kuliah umum yang diisi oleh
Prof. Dr. Purwo Santoso, M.A dari Fisipol UGM dengan materi: Kedaulatan dan
Kesejahteraan Rakyat Untuk Siapa? Prof Dr. Purwo Santoso, M.A mengatakan
bahwa kita selalu keliru dalam memandang bahwa pembangunan desa seakanakan merupakan jerih payah pemerintah pusat, tidak dipahami bahwa
pembangunan merupakan bagian dari jerih payah rakyat yang diorkestari oleh
pemerintah. Dengan cara pandang ini, kita pun melihat bahwa kedaulatan dan
kesejahteraan rakyat merupakan jerih payah pemerintah bukan jerih payah rakyat.
Karena kedaulatan dan kesejahteraan dianggap sebagai usaha pemerintah dalam
mewujudkannya, maka rakyat sering sekali dijadikan obyek. Rakyat tidak menjadi
berdaulat, karena sering dijadikan proyek pemerintah.

Direktur Eksekutif Komite Pemantauan Otonimi Daerah (KPPOD) Herman N.
Suparman yang menyampaikan materi: “Transformasi Desa Menghadapi
Perubahan Kebijakan Pemerintah” mengatakan bahwa Desa memiliki hak asal
usul dan hak tradisional dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat
setempat dan berperan mewujudkan cita-cita kemerdekaan berdasarkan Undang
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Desa perlu berkembang
menjadi kuat, maju, mandiri, dan demokratis sehingga dapat menjadi tonggakan
negara dalam mengukur keberhasilan. Namun, KPPOD melihat bahwa desa masih
dijadikan obyek bagi pemerintah dalam menyelenggarakan negara. Ide
menghadirkan Koperasi Merah Putih misalnya, justru menempatkan desa sebagai
obyek yang tidak memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus dirinya
sendiri.

Ketua Prodi Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD” Dr. Gregorius Sahdan, M.A yang
membawakan materi: “Desa Dalam Kepungan Negara”, menyampaikan bahwa
kita perlu melihat desa dari perspektif rakyat jelata, bukan dari perspektif elite. Dari
perspektif rakyat, desa selalu dijadikan anak tiri republik, jadi korban kebijakan
pemerintah, dianggap bodoh, tidak mampu dan bahkan disingkirkan dalam proses
kebijakan publik. Sejarah republik sebenarnya adalah sejarah kontribusi desa. Ada
negara karena ada desa. Namun pemerintah dengan berbagai kebijakannya kerap
mengabaikan desa dan menganggap desa tidak memiliki kewenangan. Lima tahun
terakhir pemerintahan Jokowi, desa kerap dijadikan sebagai korban kebijakan
kementerian sektoral yang menyedot dan mengambil dana desa. Misalnya
kebijakan stunting dari Kementerian Kesehatan, BLT Dana Desa dari Kementerian
Sosial, SDGs dari Bappenas, Ketahanan Pangan dari Kementerian Pertanian,
Pendidikan Berkualitas dari Kementrian Pendidikan, menyebabkan Musyawarah
Desa (MUSDES) hanya sekedar formalitas untuk menyetujui program kementerian
sektoral yang telah membagi habis penggunaan dana desa untuk membiayai
berbagai program tersebut. Desa juga tengah dikepung oleh Koperasi Masuk Desa
yang rencananya juga diambil dari dana desa. Karena itu, masalah air bersih, listrik
desa, dan sebagainya kerap diabaikan demi memuluskan program kementerian
sektoral ini. Anehnya Menteri Desa melalui Peraturan Penggunaan Dana Desa,
memberikan jalan mulus bagi pelaksanaan program kementerian sektoral ini.

Tujuan Kuliah Umum ini adalah meningkatkan partisipasi dan kontribusi multipihak
dalam memperkuat kapasitas Desa. Kuliah umum ini dilaksanakan pada Sabtu, 15
Maret 2025 Pukul 15.00-18.WIB di Ruang M.Soetopo STPMD “APMD” yang dihadiri oleh
hampir 200 peserta pegiat desa, aktivis desa, dosen dan mahasiswa.

“Kunjungan & Sinergi untuk Leapfrogging Kebijakan LLDIKTI” Oleh Kepala LLDIKTI Wilayah V Yogyakarta di Kampus STPMD “APMD” Yogyakarta.

HUMAS APMD, YOGYAKARTA (Rabu, 26/02/25) “Kunjungan & Sinergi untuk Leapfrogging Kebijakan LLDIKTI” Oleh Kepala LLDIKTI Wilayah V Yogyakarta di Kampus STPMD “APMD” Yogyakarta.

Pada Rabu di minggu terakhir bulan Februari, STPMD “APMD” Yogyakarta menerima tamu kunjungan dari  LLDIKTI Wilayah V Yogyakarta. Adanya kunjungan dengan tujuan LLDIKTI itu sendiri untuk mengunjungi Perguruan Tinggi Swasta untuk mempererat komunikasi dan mendukung peningkatan kualitas pendidikan tinggi. Pertemuan ini mempertemukkan para tenaga pengajar Kampus Desa dengan Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D, selaku Kepala LLDIKTI Wilayah V Yogyakarta. Beliau mengantarkan pembahasan, diantaranya “Peningkatan Akreditasi-Identifikasi (permasalahan dan strategi akselerasi akreditasi institusi serta prodi), Percepatan Kenaikan Jabatan Fungsional Dosen (sosialisasi Nolisasi AA dan langkah percepatan janfung dosen), dan juga Pencegahan Kekerasan Seksual di Kampus (implementasi kebijakan dan upaya menciptakan lingkungan akademik yang aman).

Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D, selaku Kepala LLDIKTI Wilayah V Yogyakarta, mengatakan, “Mari, PTS untuk tidak usah risau dan ragu, terutama diera persaingan ini, karena kita lebih baik dan utamakan untuk memperbaiki kualitas”. Maknanya dapat diartikan untuk tetap fokus menjalankan dan meraih tujuan akselerasi akreditasi, yang semula B/Baik Sekali dapat meningkat ke akreditasi A dan akreditasi A dapat meningkat ke akreditasi Unggul. Oleh karena itu, seluruh civitas kampus terutama kelembagaan dan tenaga pengajar bersama-sama merefleksikan “Jika kita ingin unggul, kita harus apa?, sudah sampai mana kita, dan apa yang belum kita raih”, dari sini muncul identifikasi gap yang terlihat lalu merencanakan berbagai program guna tercapainya kenaikan akreditasi yang berarti meningkatnya kualitas sebuah program studi dan kampus tersebut. Didukung dengan kunjungan  LLDIKTI Wilayah V Yogyakarta yang mengecek update persiapan dan perjalanan STPMD “APMD” Yogyakarta, sejauh mana menemukan list gap, dan disampaikan sebagai informasi untuk dikaji dan evaluasi  LLDIKTI. Hasil temuan mengenai kekurangan akan dijadikan dasar untuk merumuskan strategi peningkatan mutu pendidikan.

Kunjungan dan sinergi ini disambut dengan pernyataan Ketua STPMD “APMD” Yogyakarta, yakni Dr. Sutoro Eko Yunanto, M.Si, yang menyampaikan bahwasannya sudah dilaksanakan evaluasi di setiap semester melihat keberhasilan dan kendala tiap program studi, dosen, juga mahasiswa dijenjang D3, S1, serta S2. Wakil Ketua III bidang kemahasiswaan  STPMD “APMD” Yogyakarta, yakni Tri Agus Susanto, S.Pd., M.Si,. menyatakan PTS maupun PTN itu haruslah unik, keunikan yang bernilai prestasi dapat diunggulkan dan sebagai branding kampus itu sendiri. Selanjutnya Wakil Ketua I bidang akademik STPMD “APMD” Yogyakarta,oleh Dra. Widati, lic.rer.reg, memberikan informasi apa saja yang sudah dan yang akan dilaksanakan, beserta penjelasan kendala yang ditemui.

Pada akhirnya pilar perguruan tinggi itu berada pada dosen, dikarenakan masyarakat berhak mendapat layanan perguruan tinggi yang berkualitas ditandai sarana yang lengkap dari dosennya yang berkualitas yang dapat dilihat dari hasil 3 Tridharma yaki pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kewajiban dosen dengan institusi untuk memiliki Roadmap pengembangan dosen. Kunjungan ini menegaskan komitmen bersama LLDIKTI Wilayah V Yogyakarta dan STPMD “APMD” Yogyakarta untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, dengan sinergi yang kuat antara perguruan tinggi dan lembaga layanan pendidikan tinggi.(vv)

Pelatihan Digital Marketing

HUMAS APMD, YOGYAKARTA – Program Studi Pembangunan Masyarakat Desa (D-III) bekerjasama dengan Independent Science Development (ISD) atau KursusApasaja dalam menyelenggarakan pelatihan Digital Marketing. Mengangkat tema “Siap menghadapi dunia kerja di era Digital”, pelatihan yang berlangsung pada 13-14 Februari 2025 di Ruang M.Sutopo STPMD “APMD” Yogyakarta ini menjadi langkah strategis dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan era digital.

Pelatihan yang diikuti oleh sekitar 20 mahasiswa ini secara resmi dibuka oleh Dra. Widati, Lic.rer.reg. selaku Wakil Ketua I STPMD “APMD”. Untuk menciptakan suasana yang kondusif dan membangun kekompakan antar peserta, acara diawali dengan sesi outbound yang dipandu oleh Kak Bowo, salah satu instruktur dari ISD. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk mengikuti berbagai permainan yang dirancang khusus guna mengembangkan keterampilan kerja sama dalam tim. Dalam pelaksanaannya, pelatihan ini menghadirkan dua instruktur berpengalaman di bidang digital marketing. El Vika Mar Atul Khusna, S.T.P dari tim bidang manajemen bisnis dan digital marketing BNSP Certified ISD, serta Arif Muhammad Aziz, A.Md.Par dari Tim Bidang Marketing BNSP Certified Kemnaker RI berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka. Para peserta dibagi menjadi dua kelas untuk memastikan efektivitas pembelajaran yang optimal.

Materi yang disampaikan mencakup berbagai aspek penting dalam digital marketing, mulai dari pemahaman landscape digital, penerapan digital marketing untuk program desa, kolaborasi online dan manajemen proyek. Setelah mendapatkan pembekalan teori, peserta mendapatkan tugas praktik yang dikerjakan secara berkelompok. Tugas ini berkaitan dengan ilmu yang diperoleh dari materi-materi yang telah disampaikan oleh instruktur kemudian dipresentasikan dan didiskusikan bersama. Dra. Zulianti, M.A. Ketua Prodi Pembangunan Masyarakat Desa dalam sambutannya menekankan pentingnya pelatihan ini sebagai langkah konkret mempersiapkan mahasiswa menghadapi era digital. “Pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam tentang strategi pemasaran digital, penggunaan media sosial secara efektif, dan analisis data untuk pengambilan keputusan bisnis,” ujarnya.

Di akhir pelatihan, seluruh peserta menerima sertifikat keikutsertaan, dengan penghargaan khusus berupa sertifikat dari Independent Science Development yang diberikan kepada lima peserta terbaik. Tidak hanya mendapat sertifikat, tiga peserta yang memenangkan Video Content Challenge terkait pengalaman selama mengikuti pelatihan “Digital Marketing” akan mendapatkan Doorprize Merchandise Eksklusif dari ISD Indonesia. Tiara, salah satu peserta, mengungkapkan apresiasinya terhadap pelatihan ini. “Pelatihan ini sangat bermanfaat apalagi semakin kesini bisa dibilang serba digital. Instrukturnya juga asik dan Gen-Z banget sehingga kami tidak canggung untuk berkomunikasi atau berkonsultasi dengan instruktur ataupun kakak-kakak dari ISD,” ujarnya.

Senada dengan Tiara, Agus Marwoto, peserta lainnya, berharap kegiatan ini dapat berlanjut. “Semoga kegiatan seperti ini bisa berlanjut karena dari kegiatan ini bisa belajar banyak seperti pembuatan caption postingan yang lebih menarik, editing video sederhana yang lebih menarik, dan masih banyak hal lain yang dapat menambah ilmu tentang digital marketing ataupun sosial media,” tuturnya. Pelatihan ini merupakan bukti nyata komitmen STPMD “APMD” Yogyakarta dalam mempersiapkan mahasiswanya menghadapi era digital, sekaligus menjadi model pembelajaran yang efektif dalam memadukan teori dan praktik di bidang digital marketing. (Skr)

Dies Natalis 59 STPMD APMD

HUMAS APMD, YOGYAKARTA  – (Selasa, 20/11/24) “Memperingati Dies Natalis ke-59, STPMD “APMD” Yogyakarta Gelar Ragam Kegiatan dengan Tema “Ilmu Amaliah untuk Kemakmuran Rakyat”. Keseluruhan Rangkaian Berlangsung Selama Empat Pekan.

Kampus Desa ini baru saja merayakan Dies Natalis ke-59 di bulan November karena bertepatan pada tanggal 17 November 2024 sebagai hari jadi STPMD “APMD” Yogyakarta. Kegiatan tahunan pada kesempatan ini sebagai ketua panitia Dies Rema Marina, S.Sos, M.I.P  mengambil Tema “Ilmu Amaliah untuk Kemakmuran Rakyat” dengan harapan pada angka yang bertambah kali ini, kampus STPMD “APMD” Yogyakarta akan semakin mengedepankan ilmu yang bermanfaat untuk kemakmuran rakyat.

Rangkaian dilaksanakan dengan rentang waktu akhir bulan Oktober sampai pertengahan bulan November. Keseruan rangkaian pertama dimeriahkan dengan macam perlombaan olahraga antar mahasiswa yakni lomba futsal dan voli yang terlihat antusiasme raut kebahagiaan dseitiap mahasiswa yang mengikuti dan menonton perlombaan. Selesai dengan perlombaan, kegiatan beralih untuk warga sekitar dengan diadakannya bakti sosial dan bazar murah pakaian dan barang pantas pakai oleh IKABU, menjadikan warga sekitar turut merasakan manfaat dari akses yang terselenggara. Selanjutnya, kegiatan tahunan wajib setiap Dies Natalis yakni dengan berkunjung makam atau ziarah pendiri Yayasan Pengembangan Pendidikan Tujuh Belas Yogyakarta (YPP 17 Yogyakarta) dan pendiri STPMD “APMD” Yogyakarta yang berlokasi di Jalan Wates, Sleman dan Pemakaman Girigondo, Kulonprogo sebagai tanda penghormatan dan mendoakan para pendiri kampus. Beralih rangkaian dengan kegiatan refreshing dengan jalan santai, sarapan bersama dan pembagian doorprize yang diikuti seluruh sivitas akademik, sejauh 3 kilometer mengelilingi kawasan STPMD “APMD” Yogyakarta, tentunya agar sehat bugar serta ceria.

Tentu tidak lupa sebagai kawasan akademisi juga mengadakan launching buku dan sarasehan festival gagasan sebagai komitmen dalam mengeksplorasi gagasan ilmu pengetahuan, menguatkan mazhab timoho, dan melestarikan budaya dari para dosen, disambung dengan festival pameran buku dan event lainnya untuk umum yang berkolaborasi dengan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangka untuk memeriahkan rangkaian Dies Natalis ke-59. Tentunya pada penghujung rangkaian diadakan tasyakuran berdoa bersama dan pemotongan tumpeng sebagai tanda terimakasih dan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi berkat dan rahmat atas hidupnya kampus desa ini.

Keseluruhan rangkaian kegiatan ini berakhir ditandai dengan pidato dies dan pidato kelembagaan sebagai puncak rangkaian acara Dies Natalis STPMD “APMD” yang ke-59 yang dibawakan oleh Dr. Sutoro Eko Yunanto, M.Si selaku Kepala STPMD “APMD” Yogyakarta, beliau menyerukan bahwa komunitas akademik dan orang-orang pintar sebaiknya bukan bertindak seperti netizen yang suka omon-omon membikin kotor (kolonisasi) ruang publik, melainkan berpikir, bersikap, dan bertindak transformatif untuk rakyat, dengan spirit serupa – kampus untuk rakyat, ilmu untuk rakyat, sarjana untuk rakyat – pidato aksiologi ilmu amaliah ini belau maksudkan agar komunitas kampus Sekolah Tinggi ini melampaui (beyond) praktik akademik dan administratif, rangkaian rutinitas yang rutin, menuju tradisi Tridarma yang lebih bermakna dan bertenaga.

APMD harus terus menerus menyegarkan dan memperkuat posisi keilmuan yang tidak latah melainkan posisi yang distinctive, yang benar-benar khas dan unik secara esensial, bukan sekadar nomenklatur belaka, dengan pidato kelembagaan ini beliau berpesan  agar terus memupuk tradisi keilmuan, membuka ruang dialektika, serta mengutamakan realisme-idealisme ilmu menembus hegemoni proseduralisme akademik. Demikianlah keseluruhan rangkaian ini, sebuah refleksi dan perayaan atas perjalanan kampus selama 59 tahun.