Sarasehan, Launching Buku dan Alumni Pulang Kampus: 60 Tahun STPMD, “Kampus Sarjana Rakyat Untuk Republik”

13 November 2025, Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” menggelar sarasehan, peluncuran buku, dan agenda “alumni pulang kampus” dalam rangka memperingati 60 tahun berdirinya lembaga pendidikan tersebut. Mengusung tema “60 Tahun STPMD “APMD” Kampus Sarjana Rakyat untuk Republik”, kegiatan ini menjadi momentum refleksi perjalanan panjang institusi yang berpihak pada rakyat, khususnya masyarakat desa.


Ketua STPMD “APMD” menegaskan bahwa peringatan enam dekade ini bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi mendalam atas akar historis, etika, dan cita-cita republikanisme yang melandasi berdirinya kampus tersebut.
Menurut Sutoro, terdapat tiga realitas utama yang melatarbelakangi lahirnya STPMD “APMD”. Pertama, keterlibatan para pendiri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia bersama rakyat desa. Dari pengalaman itu tumbuh kesadaran etik untuk “membalas budi” kepada rakyat, terutama dengan membuka akses pendidikan tinggi bagi kalangan bawah yang selama ini terpinggirkan.
“Dulu, kuliah adalah barang mewah bagi rakyat. Maka APMD hadir untuk memastikan rakyat jelata juga memiliki akses terhadap pendidikan tinggi,” ujarnya.
Realitas kedua, lanjut Sutoro, adalah komposisi mahasiswa yang mayoritas berasal dari kalangan rakyat kecil, seperti anak petani, nelayan, dan buruh dari berbagai daerah di Indonesia. Meski terdapat mahasiswa dari keluarga aparatur sipil negara, sebagian besar hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Adapun realitas ketiga berkaitan dengan paradoks dalam praktik kenegaraan. Secara konstitusional, negara memuliakan rakyat, tetapi dalam praktiknya, rakyat kerap hanya menjadi objek politik. “Rakyat sering dibicarakan secara populis oleh elite, bukan diposisikan secara republikan sebagai subjek utama,” kata Sutoro.
Berangkat dari tiga realitas tersebut, STPMD “APMD” berupaya menghadirkan konsep “Sarjana Rakyat” sebuah proses pembelajaran yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga teleologis, metodologis, dan pedagogis. Pendidikan dipandang sebagai proses “menjadi”, bukan hasil akhir yang statis.

Kegiatan sarasehan yang berlangsung pada 13 November 2025 ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan daerah, di antaranya Natalius Pigai, Eman Suherman, Hermus Indow, Orideko Iriano Burdam, Sri Rahayu, serta Arie Sujito. Selain itu, hadir pula perwakilan pemerintah daerah, akademisi, kepala desa, serta alumni yang kini berkiprah di berbagai sektor.
Acara ini juga dimeriahkan dengan peluncuran tujuh buku karya dosen dan sivitas akademika STPMD “APMD” sebagai wujud kontribusi intelektual dalam memaknai perjalanan kampus. Beberapa judul yang diluncurkan antara lain Menimbang Ulang Governance, Informasi Tanpa Komunikasi, Melampaui Koperasi Rakyat, Negara Minus Warga Negara, hingga Dekolonisasi Pembangunan Desa karya Putera Perdana, serta Desa Antara Utopia, Realita dan Protopia. Seluruh buku tersebut diberi pengantar oleh Sutoro Eko.
Selain sarasehan dan peluncuran buku, kegiatan juga diramaikan dengan pameran karya Tri Dharma perguruan tinggi yang menampilkan hasil penelitian, pengabdian masyarakat, dan inovasi mahasiswa.
Bagi STPMD “APMD”, enam dekade perjalanan bukan sekadar penanda usia, melainkan penegasan identitas sebagai kampus yang lahir dari, oleh, dan untuk rakyat. Pendidikan di APMD, menurut Sutoro, adalah bentuk keberpihakan nyata terhadap rakyat desa sebagai fondasi republik.
“APMD tidak lahir dari ruang kosong, tetapi dari sejarah perjuangan rakyat. Karena itu, pendidikan di sini adalah upaya memerdekakan rakyat dalam pengetahuan,