REPUBLIK SEJATI

Pernahkah kah kita bertanya, apakah hanya kebetulan setiap pergantian kepala negara di dunia selalu terjadi guncangan krisis ekonomi yang berujung pada memanasnya tensi politik lokal?. Sejak lama segelintir orang telah membuat rancangan keuangan global untuk menciptakan kepatuhan. Mereka merancang sistem finansial dunia untuk satu tujuan: mengikis kelas menengah dan hanya menyisakan dua kelas sosial saja, yakni : segelintir orang berkuasa dengan pengendalian penuh ekonomi dan keuangan yang terpusat, dan kelompok yang rentan yang dikendalikan. Semua aset berada ditangan mereka. Sedangkan rakyat dipaksa ke ekonomi yang terpusat. Inflasi bukan kecelakaan. Itu alat untuk menyedot kekayaan dari bawah ke atas. Elite menarik uang dari system (pajak), rakyat disuruh bertahan hidup pake bantuan digital (yang bisa dimatikan kapan saja).

Kini mereka butuh alasan untuk mengubah sistem dan membuat sistem buatan mereka bekerja, salah satunya menciptakan “pengalihan perhatian” melalui drama politik dan menciptkan krisis demi krisis (butterfly effect). Mari cermati lagi ekperimentasi mereka ketika pandemi Covid-19, atau inflasi global yang bertujuan membuat rakyat kecil sepenuhnya bergantung pada bantuan lalu sulitnya mendapatkan pekerjaan, atau chaos geopolitik politik. Perang militer ukraina dan Rusia lalu menyusul ketegangan India versus Pakistan, Israel melakukan genosida di jalur gaza, dst., hanya lah sebuah drama politik dalam rangka mengalihkan konsentrasi dunia agar sistem segelintir orang itu bekerja tanpa gangguan. Sebab elite butuh skenario “menyelamatkan dunia” menggunakan solusi mereka. Solusinya yakni digitalisasi total, sistem kredit sosial, dan uang digital terkondisikan. Semua krisis besar selama 10 tahun terakhir bikin masyarakat lebih siap terima aturan baru tanpa sadar lagi telah dikunci. Elite global mempunyai rencana jangka panjang membentuk dunia baru yang semuanya terkoneksi tapi mereka yang pegang kendali. Istilah the new world order bukan sekedar teori konspirasi. Ini adalah bluprint dari elite yang ingin satu sistem global, satu mata uang, satu identitas dan tentu saja satu kontrol. Pelan-pelan, negara- negara disatukan secara ekonomi dan teknologi sampai manusia jadi bagian dalam sistem, bukan individu yang merdeka.

Apakah kita sekarang sudah paham kenapa sistem sekolah di Indonesia kayak pabrik dan siapa yang menciptakan itu? Ya John Rockefeller. Dia bukan guru, bukan pendidik, dia pengusaha minyak terkaya di dunia. Tahun 1922, dia bikin General Education Board; lembaga pendidikan raksasa. Katanya sih buat bantu rakyat miskin. Tapi sebenarnya dia punya rencana lain. Rockefeller tak ingin muncul generasi yang kritis. Dia mau generasi yang patuh dan tunduk. Dia bilang “ saya ga butuh pemikir, saya hanya butuh pekerja yang taat sistem”. Sehingga sistem sekolah dibuat seperti pabrik, ada bel, duduk baris, jam pulang. Anak-anak disuruh diam, taat, ikut, bahkan ke toiletpun harus ijin dulu. Anak kreatif dibilang bandel, anak kritis dianggap melawan. Anak harus manut dan ikut aturan lalu diam. Kemudian sistem ini menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke sistem pendidikan kita di di Indonesia. Sehingga banyak anak yang stress dan kehilangan arah. Karena sistemnya bukan membangun pola pikir kritis. Tapi bikin kita jadi buruh. Dan kita masih terus jalani mewariskan sistem itu sampai sekarang.

 

 

 

Tindakan Komunikatif Negara

Mereka membodohi kita,  starbuck sebenarnya adalah bank, Apple adalah merk mewah, google adalah agensi iklan, Amazon adalah perusahaan data, Redbull adalah perusahaan media, MC Donald adalah bisnis properti, Facebook adalah perusahaan pengawasan. Bagi elit ekonomi global, bisnis bukan soal apa yang dijual tapi soal mesin apa yang dibangun di belakangnya. Mereka memainkan sistem yang mudah dikontrol bersamaan dengan terus membesarnya pohon uang mereka sebagai hasil hisapan dari sumberdaya ekonomi berbagai negara, termasuk komodifikasi sumberdaya air dan makanan menjadi bisnis abadi. Coba ingat-ingat kembali, darimana datangnya sihir makan harus 3 kali dalam sehari. Bukan kah dulu para leluhur nusantara bisa tampil sebagai pemimpin yang disegani pertama kali justeru dengan mengatur sumber asupan makanan dan minum alami menjaga sistem kerja usus 12 jari agar lahir pikiran jernih.

Menurut Gusdur, Adil saja tanpa makmur berarti negara komunis. Tapi jika yang dikejar cuma kemakmuran saja tanpa keadilan berarti negara kapitalis. “Sistem kita ini ya tidak begini tapi juga tidak begitu”. Indonesia itu bukan negara demokratis tapi bukan juga negara sekuler sebab agama memiliki peran. Dengan ala mbeling (bercanda) Gusdur bilang Indonesia ini “negara bukan-bukan”, kelakarnya.

Wang Gungwu (sejarahwan) dalam Gita Wirjawan, Endgame#228, meyakini sosialis hanya bisa terjadi setelah kapitalisme. Karena Cina sendiri belum pernah mengalami kapitalisme. Maka harus memulai dulu dari kapitalisme. Sebab kapitalisme tahu cara menciptakan kekayaan, sedangkan sosialisme tidak. Ide dasar sosialisme adalah ketika kekayaan sudah ada, barulah dibagikan secara adil agar tidak ada yang terlalu kaya atau terlalu miskin. Sosialisme memang bagus dalam soal keadilan distribusi. Tapi kalau tidak ada uang, maka tak ada kekayaan yang bisa dibagikan. Apa gunanya membagi kemiskinan? Maka yang perlu dibagi adalah kekayaan. Dan untuk itu maka kekayaan harus diciptakan lebih dahulu. Dan satu-satunya cara menciptakan kekyaaan adalah memakai sistem kapitalisme. Jadi Deng Xiaoping membuka jalan bagi aktivitas kapitalisme, meski tetap di bawah partai komununis. Partai tetap ada di sana tapi mereka paham harus lebih dulu melewati tahap kapitalisme, sebelum sosialisme benar-benar dapat diwujudkan. Itu lah kejeniusan Deng Xioaping karena tak mungkin ada sosialisme tanpa kemakmuran.

“Dewa” di dunia investasi; Ray Dalio, sang arsitek di balik cara kerja hedge fund modern  memperkenalkan pendekatan unik yang telah terbukti menyelamatkan banyak investor dari kehancuran finansial. Satu kunci sukses Dalio adalah radikal transparansi. Di perusahaannya, semua orang boleh memberi kritik, berdebat, dan mendukung keputusan berbasis fakta. Ini bukan sekedar teori, tapi sistem yagg menghasilkan keputusan terbaik. Semuanya dimulai dengan melihat segala sesuatu dari sudut pandang semua orang. Berarti kita sedang melihat sebuah tindakan komunikatif aksi kolektif berpikir. Ia meyakini bahwa pembuatan keputusan kolektif lebih baik dari pembuatan keputusan individu. Tentu saja jika itu dilakukan dengan baik. Itulah yg menjadi sumber rahasia dibalik kesuksesan banyak investor menghasilkan uang selama 23-26 tahun terkahir. Bahkan ia juga memiliki pemahaman unik soal ekonomi. Menurutnya siklus ekonomi itu berulang dan dengan memahami pola ini kita bisa mengantisipasi krisis sebelum terjadi. Dalam  buku Principle, sang dewa menjelaskan bagaimana cara kerja ekonomi global. Mungkin ini menjadi alasan kini ia ditarik Prabowo memperkuat danantara. Tapi jangan lupa jalan rekonsiliasi besar Indonesia merespons gejolak krisis ekonomi yang selalu berujung gejolak politik perlu melalui tindakan komunikatif yang menyatukan semua kepala, mulai Kepala Negara, Kepala Daerah dan sangat penting yakni Kepala Desa.

Sistem terpusat sentralistik dan bejenjang hirakhis, rawan penyimpangan karena tidak ada yang bisa mengontrol. Celah sempit pergeseran antar struktur adalah ruang rawan penambahan atau pengurangan. Sistem pemilu, sistem pemerintahan, sistem pembagian air, dll. Ada agen di ruang kecil transisi hirakhis yang punya pasword untuk buka pintu. Bahkan orang dalam pun perlu punya koper. Sebab jika ini tak ada energi untuk dorong ini barang, maka dipastikan akan stag dan tak deliver. Tak ada makan siang gratis. Semua aspirasi jadi pasal yang bisa dijual. Panggung depan bebas pungli. Tapi di panggung belakang koper dan tas plastik berisi uang berseliweran lalu ditumpuk di pojok ruang pejabat.. Ketika pandemi Covid-19, TKI yang pulang harus karantina di wisma atlet, mobil travel dari luar Jakarta diputar balik petugas. Tapi kenyataannya, bisa tak perlu karantina cukup bayar Rp. 7 jt, travel tetap bisa tembus Jakarta dengan uang sogokan ke petugas. Agak aneh juga artis lokal bisa duduk di senayan dengan puluhan ribu suara mengalahkan pemain politik lama, atau mengalahkan pemain baru pemilik media massa terbesar. Ini betul-betul operasi memasukkan serum (agen) ke jantung ke pusat sistem kendali rakyat. Tan Malaka pernah bilang, “Kepentingan rakyat tidak akan bisa terwakilkan oleh orang-orang yang tidak hidup seperti rakyat”.

 

Resolusi Republik Konstitusi

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan berdasarkan prinsip kepentingan mayoritas. Itu tak terlalu rumit, sebab kepentingan mayoritas mudah dipahami, mudah dijual ke massa, dan jangan lupa ia sangat “mematikan”. Misalnya, apa yang kita pahami sebagai gerombolan? Itu aturan mayoritas. Jika ada hanya satu suara yang berbeda berarti dia berada di ujung tali. Sekarang demokrasi murni beraksi tapi tunggu sebentar. Kita mengatakan mayoritas harus memerintah tapi tidak sampai menghancurkan hak-hak minoritas. Sekarang kita tidak lagi menggambarkan demokrasi, kita berbicara tentang republik. Sebab republik adalah demokrasi terbatas. Itu adalah bentuk pemerintahan berdasarkan prinsip aturan mayoritas terbatas. Sehingga minoritas, bahkan minoritas dari satu dapat dilindungi dari keinginan dan hasrat mayoritas. Bagaimana kita  melindungi minoritas dari mayoritas? Kita memerlukan seperangkat aturan di selembar kertas. Lalu kita mengatakan ini bisa kita lakukan tapi yang itu tidak bisa. Kemudian di bagian atas kertas itu menulis kata; konstitusi. Akhirnya semua orang setuju untuk mengikuti aturan, tidak peduli apa godaannya. Dan ketika anda selesai, anda telah menciptakan republik konstitusional.

Ade Chandra

Spesialis Komunikasi Perdamaian dan Resolusi Konflik