KATA PENGANTAR

“Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya.” (Presiden Ke-35 Amerika Serikat John F. Kennedy)

 

Puisi adalah karangan teks yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penulisnya dengan mengutamakan keindahan kata-kata. Jadi dalam puisi, kita dapat menyampaikan rasa kerinduan, kegelisahan, atau pengagungan yang diungkapkan dalam bahasa yang indah. Namun tentang keindahan bahasa ini masih ada perdebatan di kalangan penyair, akademisi, dan pegiat sastra lainnya

Puisi tentang politik menggabungkan keindahan bahasa dengan refleksi kritis terhadap situasi politik. Puisi politik mencerminkan kebebasan ekspresi dan merupakan wadah bagi para penulis puisi untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran dalam masyarakat. Karya puisi politik telah menjadi salah satu medium yang kuat dalam menyampaikan pesan-pesan perlawanan dan menggugah kesadaran dalam konteks politik. Melalui kata-kata yang indah dan perenungan mendalam, mampu merangsang pikiran, menyentuh hati, dan menginspirasi tindakan.

Puisi dan politik sebenarnya telah lama berdekatan. Presiden Ke-35 Amerika Serikat John F. Kennedy yang pernah berkata, “Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya.” Apa yang disampaikan JFK, tentu berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai politisi. Dia tahu bahwa ada banyak intrik dalam politik yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Dia tahu, yang disuguhkan dan dilihat oleh kebanyakan dari rakyat yang awam, hanyalah panggung depan. Sementara aktor-aktor politik, di panggung belakang, saling kasak-kusuk, bersekongkol, kongkalikong, dalam muslihat tingkat dewa, demi berebut, mempertahankan, dan berbagi kekuasaan secara culas. Puisi memang harus hadir ketika politik kita hanya diisi oleh intrik dan kekuasaan. Puisi dapat menjadi medium untuk mencuci politik yang kotor,

 

Bagaimana dengan puisi humor politik? Dalam dunia politik, humor adalah bagian penting keterampilan berkomunikasi. Ini karena humor adalah bahasa universal. Hampir semua orang suka. Karena itu, humor bisa menjadi kendaraan berbagai jenis pesan agar bisa diterima mitra bicara tanpa penolakan. Oleh para filsuf, humor sebenarnya dianggap kurang terhormat sebagaimana tertawa. Tawa dianggap sebagai kenikmatan dunia yang perlu dihindari. Kalaupun boleh dinikmati, jangan sampai berlebihan. Humor dan tawa adalah eskapisme psikologis yang membuat orang cenderung menjauhkan diri dari kesadaran eksistensial dirinya. Ada beberapa pandangan filosofis yang menempatkan humor di median negatif. Plato memandang tawa sebagai emosi yang dapat mengurangi pengendalian diri dan pikiran rasional. Karena itulah, dia mengatakan bahwa wali negara sebaiknya menghindari tawa. “Biasanya ketika seseorang meninggalkan tawa dengan kekerasan, kondisinya memprovokasi reaksi keras,” tulisnya sebagaimana dikutip Standford Enscyclopedia of Philosophy.

Di era politik modern, kita sering melihat politisi yang tampil dengan senyum lebar dan gaya bicara yang santai di hadapan publik. Mereka dengan mudah menyelipkan candaan atau komentar humoris dalam pidato mereka, membuat suasana menjadi lebih ringan. Para politisi ini tampak seperti sosok yang bersahabat, tidak terjebak dalam formalitas yang kaku. Mereka seolah ingin menunjukkan bahwa meskipun mereka berada di posisi kekuasaan, mereka tetap manusia biasa yang bisa tertawa dan bercanda seperti orang lain.

Humor dalam politik sering kali menjadi momen yang paling diingat oleh publik. Di media sosial, potongan video yang menampilkan politisi melontarkan lelucon sering kali menjadi viral, menarik perhatian jutaan warganet. Momen-momen ini memperkuat citra politisi sebagai sosok yang menyenangkan. Dengan bantuan humor, politisi berhasil menciptakan hubungan yang lebih akrab dengan masyarakat, membuat publik merasa lebih dekat dan mendukung mereka dengan lebih antusias.

Menurut  KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur salah satu tujuan humor politik adalah protes terselubung. Ia juga sebagai wadah ekspresi politis yang kegunaannya minimal akan menyatukan bahasa rakyat banyak dan mengidentifikasi masalah-masalah yang dikeluhkan dan diresahkan. Tidak muluk-muluk, lelucon juga memiliki kemampuan untuk menggalang kesatuan dan persatuan, minimal dengan jalan mengidentifikasi “lawan bersama”. Lelucon juga dapat berfungsi sebagai kritik terhadap keadaan tidak menyenangkan di tempat sendiri. Protes terhadap penyalahgunaan wewenang oleh tokoh-tokoh yang berkuasa sering sekali dituangkan dalam bentuk lelucon. Selain itu, terkadang lelucon berfungsi sebagai pelepas kejengkelan orang banyak kepada penguasa yang dianggap sudah bertindak terlalu jauh membohongi dan menyakiti hati rakyat.

 

Di Indonesia kita mengenal antara lain WS Rendra, Widji Tukul, Gus Mus yang menulis puisi bergenre puisi sosial  politik. Pada era sekarang kita mengenal penyair Afnan Malay yang telah membukukan empat kumpulan puisi berlatar belakang sosial dan politik. Sementara itu kita mengenal beberapa penyair yang puisi-puisinya dikenal dengan genre humor. Sebut saja Remy Silado, Joko Pinurbo dan Jose Rizal Manua.

 

Buku ini berjudul Kitab Omon-omon Kumpulan Puisi Humor Politik. Ada 94 puisi dari 94 penyair. Ada penyair serius, ada penyair paruh waktu ada pula penyair dadakan. Tak masalah. Bahkan ada juga penyair yang kata dasarnya syair dan penyair yang kata dasarnya cair. Mari kita simak puisi humor Catatan 2 karya Juniarso Ridwan. Ia mantan birokrat dan sekarang anggota DPRD Kota Bandung. Melalui puisinya ia berani melakukan otokritik. Banar kata Gus Dur humor tertinggi itu adalah humor yang mampu menertawakan diri sendiri.

 

Catatan 2

 

Politikus itu seperti septic tank

Segala kebusukan mengalir

Ke dalam dirinya

 

Kedunguan adalah bagian penting

Bagi penggiat politik praktis

 

Selagi banyak rakyat miskin

Selalu menjadi peluang

Hadirnya politikus culas

 

Anggota parlemen ibarat popok bayi

Harus rutin diganti sesuai kebutuhan

 

Selagi tak punya uang, tak perlu malu

Sebab ada politikus berlimpah uang

Tapi tak punya malu.

 

2025

 

Ada pula puisi humor yang terselip sejarah panjang hubungan Jakarta dan Banda Aceh. Puisi karya LK Ara asal Aceh ini mengingatkan saya pernah membuat dua buku tentang humor Aceh. Pertama GAM, Geerr Aceh Merdeka (Garba Budaya, 2003), dan Senyum Dikulum Tsunami (Kata Hati Institut, 2005). LK Ara adalah penyair paling sepuh dalam buku ini. Ia mengingatkan sekaligus menertawakan, bahwa Sukarno pernah berjanji kepada Tgk. Daud Beureueh dan tak ditepati.

Warung Kopi Republik

 

Warung kopi di sudut pasar Banda Aceh ramai sore itu.

Sukarno duduk sambil memesan kopi sanger,

Tgk. Daud Beureueh datang bawa rencong—bukan untuk perang,

hanya untuk membuka bungkus roti canai.

 

“Bagaimana kabar Syariat Islam kita, Kakak?” tanya Sukarno sambil mengaduk gula.

“Kabar baik,” jawab Daud, “tapi dia cuma ada di baliho dan pidato.”

 

Sukarno tertawa, “Waduh, di zaman saya dulu tidak ada baliho.”

“Tapi ada baliho mulut, Bung,” balas Daud.

“Itu yang paling tahan lama,

tidak pernah sobek oleh hujan,

hanya sobek oleh ingatan rakyat.”

 

Mereka menghirup kopi,

dan seperti biasa, kopi politik itu pahitnya berlapis:

lapisan pertama janji,

lapisan kedua revisi janji,

lapisan ketiga: ‘akan dibahas di sidang berikutnya’.

 

“Apa rencananya setelah ini, Kakak?” tanya Sukarno.

“Rencananya sederhana,” jawab Daud,

“Kalau janji itu tidak ditepati,

saya bikin kopi pahit tanpa gula…

lalu saya suruh Bung habiskan.”

 

Warung kopi tertawa,

riuh seperti rakyat yang baru saja membaca berita janji lama

yang kembali dihidangkan hangat di musim kampanye.

 

Kalanareh, Juli 2025

 

Puisi Marwanto yang merupakan komisioner Bawaslu Kulonprogo tentang silih berganti pemimpin negeri yang otoriter, egaliter, dijuluki super semar atau semar super. Demokrasi electoral membuat siapa saja bisa menjadi pemimpin. Dan rakyat salah memilih pemimpin sangat mungkin terjadi dalam demokrasi saat ini. Bahkan rakyat Amerika Serikat yang telah melek demokrasi saja dua kali salah memilih presiden ketika mereka meilih Donald Trump. Puisi Marwanto menunjukkan rakyat mudah terpesona oleh panggung depan politik yang serba merakyat.

Negeri Welgedhuwelbeh.…

 

ini kisah negeriku

yang pernah dipimpin semar

diutus sang hyang wenang

memperbaiki kondisi centang perenang

 

tak hanya sekali, tapi dua kali

banyak rakyat yang menyayangi

namun tak sedikit yang mencaci

 

semar pertama sangat otoriter

namanya super semar

turun tahta dilengserkan mahasiswa

semar kedua orangnya egaliter

namanya semar super

meninggalkan istana diusir anak tk

 

selang beberapa tahun kemudian

muncullah prabu welgedhuwelbeh

blusukan menyihir rakyat kebanyakan

menuju kursi istana layaknya orang saleh

 

hati rakyat pun senang bukan kepalang

merasa memiliki pemimpin  idaman

pertunjukkan pun selesai blencong dimatikan

wayang welgedhuwelbeh diarak di jalanan

 

oleh anak-anak dijadikan bahan mainan

tapi sang orang tua selalu melarang

takut anaknya jadi plonga-plongo

cikal bakal bloon bin bego

 

Wisma-Aksara, 2025

 

 

Selamat kepada semua penyair yang telah membuat puisi humor politik di Kitab Omon-omon ini. Ini seperti pesan Joko Pinurbo dalam petikan puisi Dedet Setiadi (2025): Det, sekali waktu buatlah puisi /

tentang negrimu yang sedang lucu-lucunya /menderita itu /biar aku tersenyum /dan berkata /Asu! Ha ha ha. Kepada para penyair dan pembaca buku ini saya berpesan dengan mengutip Bertold Brecht, sastrawan Jerman, “Sengsara, hidup di negara yang tidak memiliki humor. Tetapi lebih sengsara lagi, hidup di negara yang membutuhkan humor”

 

Tri Agus Susanto

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” Yogyakarta.. Pada 1992, 1994 dan 2000 melalui Yayasan Pijar bersama Lembaga Humor Indonesia (LHI) dan majalah Humor menjadi Ketua Panitia Pekan Humor Indonesia (PHI). Tahun 2018, menerima hibah penelitian dari Literarisches Colloquium Berlin (LBC) Jerman. Di sana, dia melakukan penelitian tentang humor politik. Menulis beberapa buku: Mati Ketawa Cara Timor Leste (Solidamor dan Talitakum, 2002) kata pengantar Xanana Gusmao, Geerr Aceh Merdeka, GAM (Garba Budaya, 2003), Humor Pemilu 2004 (SEAPA Jakarta, 2005), Senyum Dikulum Tsunami (Kata Hati Institut, 2005),  Merapi tak Pernah Ingkari Monarki (2012), Ensiklomedi Politik (Leutika, 2010), Melawan Orde Baru Dengan cengengesan, kata pengantar Goenawan Mohamad (LPI, 1997), Humor Komunis dan Humor Anti Komunis (Pohon Kata, 2019).