{"id":3761,"date":"2019-11-19T15:24:57","date_gmt":"2019-11-19T08:24:57","guid":{"rendered":"http:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/?p=3761"},"modified":"2019-11-19T15:24:57","modified_gmt":"2019-11-19T08:24:57","slug":"mendudukkan-ulang-keilmuan-kelembagaan-dan-kemakmuran-dari-pidato-dr-sutoro-eko-yunanto","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/mendudukkan-ulang-keilmuan-kelembagaan-dan-kemakmuran-dari-pidato-dr-sutoro-eko-yunanto\/","title":{"rendered":"Mendudukkan Ulang Keilmuan, Kelembagaan dan Kemakmuran (dari Pidato Dr Sutoro Eko Yunanto)"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mendudukkan Ulang Keilmuan, Kelembagaan dan Kemakmuran<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> (dari Pidato Dr Sutoro Eko Yunanto) <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\n Dalam rangka memperingati dan memuliakan Dies ke-54 Sekolah Tinggi, \ndengan tema &#8220;Maju dan Bermartabat&#8221; Ketua APMD Dr Sutoro Eko Yunanto \nmenyampaikan pidato berjudul &#8220;Mendudukkan Ulang Keilmuan,  Kelembagaan \ndan Kemakmuran.&#8221; <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Tema &#8220;Maju dan Bermartabat&#8221;  bukan sekadar \njargon rutinitas yang rutin sehingga menjadi sebuah formalisme yang \nterkena formalin. Sebaliknya tema itu adalah semangat, makna, vocation, \ndan passion, sekaligus sebagai start up untuk mencapai langka demi \nlangkah,  hari demi hari,  perjalanan Sekolah Tinggi,  yang tidak pernah\n lekang dimakan waktu. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Dekade 1980-an adalah dekade kejayaan \nAPMD. Dekade 1990an adalah dekade decline Sekolah Tinggi. Dua dekade \nreformasi adalah dekade kebangkitan kembali Sekolah Tinggi. Pelan tapi \npasti,  reformasi (globalisasi,  demokratisasi, desentralisasi,  \npolitisasi,  lokalisasi, desanisasi,  pemberdayaan,  dan lain-lain) \ntelah memberikan struktur kesempatan bagi eksistensi Sekolah Tinggi,  \nyang memaksa Sekolah Tinggi berorientasi keluar lebih luas, sekaligus \nmembuka pandangan dunia luar kepada Sekolah Tinggi. Berkah reformasi, \ncapaian APMD naik kelas dari perguruan tinggi yang survival menjadi \ndeveloping, tentu masih di bawah perguruan tinggi unggul. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Jika \ndipandang dengan standar teknokratik, Sekolah Tinggi mempunyai kinerja \ncapaian baik, sesuai standar rutin. Akreditasi B merupakan penanda \nkinerja Sekolah Tinggi yang berstandar rutin itu. Jika dielaborasi \ndengan naluri dan suasana kebatinan,  darma pendidikan punya nilai B \nminus, penelitian punya nilai C, dan darma pengabdian lebih unggul punya\n nilai A minus. <\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" sizes=\"auto, (max-width: 4000px) 100vw, 4000px\" src=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_7537-1024x682.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3765\" srcset=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_7537-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_7537-300x200.jpg 300w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_7537-768x511.jpg 768w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_7537-400x266.jpg 400w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_7537-272x182.jpg 272w\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> APMD hadir pada tahun 1965 karena mengemban misi\n keilmuan. Sekolah Tinggi, sampai hari ini, bukanlah perguruan tinggi \nuniversal seperti universitas, melainkan perguruan tinggi partikular, \nyang khas dan unik.  Ciri khas partikular itu ditandai dengan identitas \ndan ilmu  &#8220;desa&#8221;,  selain memiliki ilmu universal, yakni  ISPH Ilmu \nsosial &#8211; politik humaniora. Tak sedikit para sahabat eksternal tak mau \ntahu tentang prodi dan ISPH, melainkan melihat identitas desa, yang \nmenaruh harapan besar kepada Sekolah Tinggi memiliki &#8220;laboratorium desa&#8221;\n yang beragam di belahan Nusantara, melalui sentuhan Tridarma yang \nkonkret.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Meskipun ada sejumlah mata kuliah yang berjudul &#8220;desa&#8221;, \ntetapi lewat begitu saja. Dosen dan mahasiswa umumnya tidak tahu hal \nihwal desa, yang lebih banyak menekuni Ilmunya, bahkan dosen secara \n&#8220;rutinitas yang rutin&#8221; melakoni pengajaran mata kuliah yang diampunya \nselama bertahun-tahun. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> ISPH menggunakan ilmu universal untuk \nmelihat, mendidik,  meneliti,  dan menyuluh desa. Ilmu secara deduktif \nmemandang desa sebagai lokasi dan obyek. Dalam praktik kebijakan, ini \ndisebut dengan pendekatan sektoral, yang masuk ke desa, melalui desa, \ntetapi tanpa desa. Posisi &#8220;Ilmu memandang desa&#8221; ini lazim dipakai oleh \nsebagian besar ilmuwan sosial baik domestik maupun asing, baik yang \nberhalauan orientalis-modernis maupun kaum revisionis-radikal. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> \nDi Sekolah Tinggi, praktik &#8220;Ilmu memandang desa&#8221; ini juga terjadi. Dosen\n datang ke desa sebagai lokasi dan obyek penelitian dan pengabdian, \ndengan membawa konsep &#8220;berbasis masyarakat&#8221;,  misalnya manajemen bencana\n berbasis masyarakat, pariwisata berbasis masyarakat,  konservasi \nlingkungan berbasis masyarakat,  manajemen sumber daya alam berbasis \nmasyarakat dan sebagainya. Konsep ini sangat dipengaruhi oleh tradisi \ncommunity development ala Amerika atau Australia yang juga dibawa oleh \nCSR perusahaan multinasional ke Indonesia. Orang APMD kok bicara \n&#8220;berbasis masyarakat&#8221;,  kenapa tidak bicara &#8220;berbasis desa&#8221;?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Desa\n berdiri sendiri sebagai ilmu yang memiliki ontologi, epistimologi, dan \naksiologi, dengan mengabaikan ISPH secara formal. Mengabaikan ilmu \nsecara deduktif, ilmu desa ini bekerja secara induktif dengan \npengetahuan lokal yang tumbuh dalam kehidupan desa maupun praktik \nkebijakan. Tetapi posisi ini terlalu romantis dan bahkan konyol, yang \njustru akan mengisolasi desa dari dunia dan narasi besar. Ilmu desa \ntidak mungkin berdiri sendiri tanpa berinteraksi dengan banyak ilmu \nuniversal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> ISPH dan desa blended bersenyawa menjadi satu. Ilmu \nberdesa, desa berilmu, atau mendesakan Ilmu dan mengilmukan desa. \nBlended ini dialektik, konstruktivis, reflektif, kontekstual dan \nrelevan. Sutoro Eko secara personal mengambil posisi ini, tanpa \nmeninggalkan Ilmu politik-pemerintahan, bahkan dirinya juga belajar \nsosiologi, sejarah, dan antropologi untuk memperkuat blended antara ilmu\n sosial dan desa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Sebagai sarjana politik-pemerintahan Sutoro Eko\n membangkang ajaran Bapak Ilmu Politik, Aristoteles, yang meninggalkan \nasosiasi manusia bernama desa, menuju negara sebagai asosiasi pamungkas \nbagi manusia, yang memberi kehidupan etik secara baik dan sempurna bagi \nwarga negara. Sebaliknya, Sutoro Eko mengambil posisi membela dan \nmemuliakan desa, bukan karena sikap romantis-esensialis, tetapi sikap \nkontruktivis-transformatif. Pilihan ini diambil karena Sutoro Eko secara\n institusional bernaung di bawah payung APMD. Juga secara keilmuan, \npilihan atas desa itu karena &#8220;Desa adalah sel negara, desa adalah \npemilik negara&#8221;, dan secara historis-antropologis desa telah menciptakan\n negara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Jika perspektif &#8220;desa ilmiah&#8221; melihat desa sebagai \nlokasi dan obyek semata, perspektif &#8220;desa semesta&#8221; secara utuh memandang\n desa sebagai ruang kehidupan manusia, yang lengkap mengandung \nkekuasaan, rakyat,  sumberdaya ekonomi, identitas, wilayah,  masyarakat \ndan seterusnya. Rural bukan sekadar area, melainkan mengandung tiga \ndimensi a) lokalitas b) kehidupan dan c) representasi. <\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" sizes=\"auto, (max-width: 4000px) 100vw, 4000px\" src=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_7484-1024x682.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3766\" srcset=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_7484-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_7484-300x200.jpg 300w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_7484-768x511.jpg 768w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_7484-400x266.jpg 400w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_7484-272x182.jpg 272w\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Jika \n&#8220;desa ilmiah&#8221; bekerja secara masif dan berjangkauan luas dari \nmakro-nasional, meso-regional dan mikro-lokal, maka juga harus \nditandingi secara masif, baik melalui counter discourses, Ilmu blended, \nprovokasi politik, praktik diskursif, maupun praktik konkret melalui \npembelajaran dan pengorganisasian. Sekolah Tinggi, pegiat desa, dan para\n pemimpin desa bisa merajut gotong royong untuk melawan &#8220;desa ilmiah&#8221;  \nitu dan memperjuangkan &#8220;desa semesta&#8221;.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mendudukkan Ulang Keilmuan, Kelembagaan dan Kemakmuran (dari Pidato Dr Sutoro Eko Yunanto) Dalam rangka memperingati dan memuliakan Dies ke-54 Sekolah Tinggi, dengan tema &#8220;Maju dan Bermartabat&#8221; Ketua APMD Dr Sutoro Eko Yunanto menyampaikan pidato berjudul &#8220;Mendudukkan Ulang Keilmuan, Kelembagaan dan Kemakmuran.&#8221; Tema &#8220;Maju dan Bermartabat&#8221; bukan sekadar jargon rutinitas yang rutin sehingga menjadi sebuah formalisme [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":3762,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_joinchat":[],"footnotes":""},"categories":[4,5],"tags":[],"class_list":["post-3761","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-kampus","category-berita-pendidikan"],"publishpress_future_action":{"enabled":false,"date":"2026-06-28 19:44:05","action":"change-status","newStatus":"draft","terms":[],"taxonomy":"category","extraData":[]},"publishpress_future_workflow_manual_trigger":{"enabledWorkflows":[]},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3761","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3761"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3761\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3762"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3761"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3761"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3761"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}