{"id":3736,"date":"2019-10-31T14:06:44","date_gmt":"2019-10-31T07:06:44","guid":{"rendered":"http:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/?p=3736"},"modified":"2019-10-31T14:06:44","modified_gmt":"2019-10-31T07:06:44","slug":"digitalisasi-politik-pedang-bermata-dua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/digitalisasi-politik-pedang-bermata-dua\/","title":{"rendered":"&#8220;Digitalisasi politik, pedang bermata dua&#8221;"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Sejumlah 74 makalah dari tujuh negara dibahas dalam Internasional \nConference on Advances Goverment and Political Sciences (ICAGPS2019) dan\n Digital Communication, Media and Journalism (ICCMJ-2019) yang digelar \ndi STPMD &#8220;APMD&#8221; Yogyakarta 25-26 Oktober 2019. <\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-gallery aligncenter columns-1 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" src=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_4856-1024x682.jpg\" alt=\"\" data-id=\"3738\" data-link=\"http:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/?attachment_id=3738\" class=\"wp-image-3738\" srcset=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_4856-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_4856-300x200.jpg 300w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_4856-768x511.jpg 768w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_4856-400x266.jpg 400w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_4856-272x182.jpg 272w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Tiga pembicara \nutama yang tampil kemarin adalah Dr. Rizal Mohd Yaakop dari Universiti \nTeknologi Malaysia, Prof. Tutut Herawan Ph.D (coaching clinic \nInternasional Journal),  dan Prof. Purwo Santoso Ph.D. Mereka membawakan\n makalah di depan sekitar 150 peserta dari berbagai perguruan tinggi \nseluruh Indonesia dan mancanegara. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Ketua STPMD &#8220;APMD&#8221; Yogyakarta\n Dr Sutoro Eko Yunanto dalam opening speach mengatakan konferensi \ninternasional ini memiliki tiga kata kunci: politik-pemerintahan,  \nkomunikasi dan community developnent. Namun,  lanjutnya, di antara tiga \nkata kunci, terdapat satu kata kunci yang sama, yakni advances, yang \nsecara etimologis bermakna promoting atau moving foward. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Sutoro \nEko menjelaskan orang lebih suka berbicara pada sejumlah konsep yang \ndireproduksi sebagai industri pemerintahan oleh neoliberalisme seperti \ntransparansi, akuntabilitas, integritas, partisipasi,  anti-korupsi. \nBagi neoliberal, yang diikuti netizen milenial dan kaum kelas menengah \nkota, konsep &#8220;advance&#8221; lebih bermakna sebagai digitalisasi (data, \ninformasi, media, teknologi, internet) terhadap kehidupan manusia, \nsebagaimana hadir dalam berbagai jargon: ekonomi digital,  masyarakat \ndigital, komunitas digital, politik digital maupun pemerintah digital. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\n Ketua APMD menggarisbawahi perangkat digital ibarat sebilah pedang \nbermata dua. Tubuh pedang itu adalah neoliberalisme, yang memanfaatkan \nperangkat digital untuk mengobati krisis kapitalisme, sekaligus \nmemperkuat kapitalisme dengan prinsip efisiensi dan kecepatan informasi \nyang disediakan oleh perangkat digital. Namun kapitalisme bukan perkara \nbisnis biasa. Ia hidup bersentuhan dengan negara, pemerintah dan \nmasyarakat. Neoliberalisme tak suka pada sistem politik-pemerintahan \nyang merugikan ekonomi pasar kapitalis, entah demokrasi atau \notoritarian.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" sizes=\"auto, (max-width: 4000px) 100vw, 4000px\" src=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_4901-1024x682.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3739\" srcset=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_4901-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_4901-300x200.jpg 300w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_4901-768x511.jpg 768w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_4901-400x266.jpg 400w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_4901-272x182.jpg 272w\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Ada dua jenis sistem-politik pemerintahan yang \nmenjadi musuh neoliberalisme dan harus dihadapi dengan perangkat \ndigital, Sutoro Eko menjelaskan. Satu mata pedang perangkat digital \ndigunakan oleh masyarakat sipil, yang didukung oleh agen neoliberalisme,\n untuk menantang otoritarianisme dan membuka demokrasi. Contoh Arab \nSpring. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Mata pedang yang lain, digitalisasi melemahkan \ndemokrasi, sesuai skenario neoliberalisme. Secara formal, demokrasi \nterus berfungsi tetapi menjadi semakin kosong, yang disebut sosiolog \nInggris Colin Crough (2000) sebagai &#8220;pasca-demokrasi.&#8221; Ciri penting \n&#8220;pasca-demokrasi&#8221; adalah peningkatan kuasa agen neoliberal dan korporasi\n untuk memengaruhi keputusan yang diambil pemerintah nasional dalam \nmenanggapi tekanan rakyat. Mereka juga memaksa mengurangi campur tangan \nnegara dalam kehidupan sosial, kecuali campur tangan yang menguntungkan \npasar dan korporasi. Pemerintah juga dipaksa untuk mengadopsi perangkat \ndigital sebagai bentuk kontrol teknokratis atas oligarki dan populisme. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\n Sutoro Eko juga memberi sejumlah tanda terhadap rezim digital dan \npasca-demokrasi. Pertama, netizen merupakan bentuk jejaring komunalisme \nbaru tanpa kewargaan. Kedua, rezim digital tidak percaya pada pemerintah\n dan negara, tetapi lebih percaya pada kapitalisme, sembari memaksa dan \nmemanfaatkan negara untuk mengurus kepentingan mereka. Ketiga, efisiensi\n lebih penting ketimbang demokrasi dan kedaulatan rakyat. Keempat, \ninformasi lebih penting ketimbang harapan dan aspirasi rakyat. Kelima, \nstandardisasi teknokrasi lebih penting ketimbang representasi politik. \nKeenam, kreator digital adalah pahlawan, yang lebih utama ketimbang \nguru, pemimpin rakyat atau profesor. Ketujuh, manusia semesta \ndisederhanakan menjadi sumberdaya manusia sebagai alat produksi, yang \nharus mahir menggunakan perangkat digital. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" sizes=\"auto, (max-width: 4000px) 100vw, 4000px\" src=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_4770-1024x682.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3740\" srcset=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_4770-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_4770-300x200.jpg 300w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_4770-768x511.jpg 768w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_4770-400x266.jpg 400w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/IMG_4770-272x182.jpg 272w\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Pada bagian akhir \nSutoro Eko memberi saran agar kita tidak boleh gampang terkejut dan \nheran, lalu menjadikan digitalisasi sebagai berhala. Kita harus bersikap\n kritis dan emansipatoris. Digitalisasi politik harus ditandingi dengan \npolitisasi digital, agar perangkat teknologi itu tidak dilembagakan \nmenjadi teknokrasi, yang mereduksi segala aspek kehidupan manusia \nmenjadi perkara teknis semata. Paling tidak orang bisa melakukan \nbullying terhadap digitalisasi politik maupun perangkat digital yang \ndilembagakan menjadi teknokrasi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejumlah 74 makalah dari tujuh negara dibahas dalam Internasional Conference on Advances Goverment and Political Sciences (ICAGPS2019) dan Digital Communication, Media and Journalism (ICCMJ-2019) yang digelar di STPMD &#8220;APMD&#8221; Yogyakarta 25-26 Oktober 2019. Tiga pembicara utama yang tampil kemarin adalah Dr. Rizal Mohd Yaakop dari Universiti Teknologi Malaysia, Prof. Tutut Herawan Ph.D (coaching clinic Internasional [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":3737,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_joinchat":[],"footnotes":""},"categories":[4,5],"tags":[],"class_list":["post-3736","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-kampus","category-berita-pendidikan"],"publishpress_future_action":{"enabled":false,"date":"2026-06-28 20:05:48","action":"change-status","newStatus":"draft","terms":[],"taxonomy":"category","extraData":[]},"publishpress_future_workflow_manual_trigger":{"enabledWorkflows":[]},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3736","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3736"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3736\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3737"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3736"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3736"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3736"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}