{"id":3670,"date":"2019-09-05T12:10:16","date_gmt":"2019-09-05T05:10:16","guid":{"rendered":"http:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/?p=3670"},"modified":"2019-09-05T12:10:16","modified_gmt":"2019-09-05T05:10:16","slug":"kuliah-umum-keluar-dari-negara-jakarta-membentuk-ulang-negara-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/kuliah-umum-keluar-dari-negara-jakarta-membentuk-ulang-negara-indonesia\/","title":{"rendered":"Kuliah Umum \u00e2\u20ac\u0153Keluar dari NEGARA JAKARTA Membentuk Ulang NEGARA INDONESIA&#8221;"},"content":{"rendered":"\n<ul class=\"wp-block-gallery alignright columns-1 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\"><li class=\"blocks-gallery-item\"><figure><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"682\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/IMG_3844-1-682x1024.jpg\" alt=\"\" data-id=\"3673\" data-link=\"http:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/?attachment_id=3673\" class=\"wp-image-3673\" srcset=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/IMG_3844-1-682x1024.jpg 682w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/IMG_3844-1-200x300.jpg 200w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/IMG_3844-1-768x1153.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 682px) 100vw, 682px\" \/><\/figure><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\n Pindah ibu kota adalah hijrah untuk membuat sejarah masa depan. Tidak \nperlu berpikir dan berpendapat  ala bakul plus tengkulak Jakarta yang \nhanya berhitung untung rugi. Hal itu dikatakan oleh Ketua STPMD \u00e2\u20ac\u0153APMD\u00e2\u20ac\u009d \nYogyakarta Dr. Sutoro Eko Yunanto, Rabu (4\/9) pada kuliah umum bertema \n\u00e2\u20ac\u0153Keluar dari Negara Jakarta Membentuk Ulang Negara Indonesia.\u00e2\u20ac\u009d Kuliah \numum diadakan di Ruang M. Soetopo, Kampus Desa Timoho, Yogyakarta, yang \ndiikuti lebih dari seratus mahasiswa dan non mahasiswa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Dalam kuliah umum yang dipandu Dr. <a href=\"https:\/\/www.facebook.com\/gtjahjoko?__tn__=%2CdK-R-R&amp;eid=ARAjGdkkkteC09Pa4PEMJZtm3RTu08kRiFyQUs28g99QKFrjwU1y8CRjCRQPwWi3W7wRVfNKXhXQw769&amp;fref=mentions\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Guno Tri Tjahjoko<\/a>\n itu, Sutoro Eko menjelaskan berbagai isu antara lain: teori dan praktik\n pembentukan Negara, negaranisasi pemerintah govermentalisasi negara, \ntransformasi dan mentalitas Negara Jakarta, arsitektur baru pemerintahan\n dan Negara Indonesia, dan posisi desa dalam Negara baru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Pada \nawal kuliah umum, Ketua APMD itu member latar belakan tentang tujuan dan\n alas an Presiden Joko Widodo berkehendak memindahkan ibu kota sebagai \nbagian dari misi besarnya mengubah Jakarta-Jawa centris menuju Indonesia\n centris. Baik Presiden maupun Bappenas menyampaikan alas an pada fakta \nhilir yang kongkret dan kasat mata apa yang terjadi di Jakarta. Presiden\n sama sekali tak menyalahkan Pemprov DKI Jakarta. Bahkan menurut catatan\n sejarawan, sejak zaman VOC sudah mengendalikan banjir tetapi juga \nmenciptakan banjir.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" sizes=\"auto, (max-width: 4000px) 100vw, 4000px\" src=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/IMG_3839-1024x682.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3674\" srcset=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/IMG_3839-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/IMG_3839-300x200.jpg 300w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/IMG_3839-768x511.jpg 768w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/IMG_3839-400x266.jpg 400w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/IMG_3839-272x182.jpg 272w\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Argumen para penolak ibu kota pindah cukup \nbanyak. Mereka menggunakan argumen sejarah, politik, ekonomi, anggaran, \ndan legalitas. Pada argumen sejarah, Jakarta adalah legacy  Bung Karno, \nterlalu bersejarah untuk ditinggalkan. Jakarta adalah warisan Batavia \ntetapi Jakarta bukan Batavia karena Bung Karno member citarasa Indonesia\n pada Jakarta. Argumen politik mengatakan Presiden tak bisa memutuskan \nsendiri pemindahan ibu kota tetapi harus melalui referendum. Mirip \nargumen politik, pada argumen legalitas, dikatakan keputusan presiden \nillegal karena tak menggunakan UU bersama DPR. Argumen ekonomi dan \nanggaran sebelas-dua belas, ekonomi sedang sulit, pindah ibu kota akan \nmembebani anggaran Negara. Seorang influencer muda yang cerdas, kritis, \nhebat tetapi dangkal mengatakan bahwa pemindahan ibu kota mengonfirmasi \nkegagalan Jokowi memperbaiki Jakarta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Sutoro Eko juga mengutip \ndua sahabatnya terkait pemindahan ibu kota. M. Barori, Ketua Yayasan \nPendidikan 17 mengatakan pemindahan ibu kota bukan soal lingkungan, \ntetapi reformasi birokrasi secara radikal. Sementara Yando Zakaria, \npegiat desa aktivis LSM, mengatakan pemindahan ibu kota Negara itu dalam\n konteks Indonesia adalah reproklamasi republik. Jadi tidak relevan \ndibahas dengan pendekatan teknokratik dan atau ekonomi semata.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" sizes=\"auto, (max-width: 4000px) 100vw, 4000px\" src=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/IMG_3845-1024x682.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3675\" srcset=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/IMG_3845-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/IMG_3845-300x200.jpg 300w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/IMG_3845-768x511.jpg 768w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/IMG_3845-400x266.jpg 400w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/IMG_3845-272x182.jpg 272w\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> \nNegara menurut \u00e2\u20ac\u0153ilmu Negara\u00e2\u20ac\u009d yang dipengaruhi oleh hukum, Negara adalah \nkesatuan (entitas) yang terdiri dari wilayah, rakyat, pemerintah, \nkedaulatan, dan pengakuan. Max Weber mengatakan Negara adalah satu \nmasyarakat manusia yang mempunyai monopoli dalam penggunaan kekerasan \nfisik secara absah dalam suatu wilayah. Negara mempunyai dua fungsi \nutama yaitu law &amp; order dan welfare.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Negara Jakarta:<br> \nJakarta bukan sekadar provinsi, bukan pula sekadar ibu kota Negara \nRepublik Indonesia. Jakarta adalah pusatnya pusat, mengandung unsur \nnegara, kota dan modal, yang dibentuk dan disepuh terus dari zaman \nkolonial hingga zaman neoliberal dengan politik perang dan paksaan. \nSutoro Eko menyebutnya sebagai Negara Jakarta. Ini bukan Negara dalam \nNegara. Tetapi Jakarta dan Negara adalah dua sisi mata uang. Sejarah, \nekonomi-politik, budaya,ilmu pengetahuan, teknologi, globalisasi, \nsengketa politik, berkontribusi terhadap pembentukan Negara Jakarta. \nKarena itu, \u00e2\u20ac\u0153Jakarta menciptakan Negara, Negara menciptakan Jakarta,\u00e2\u20ac\u009d \njelas Sutoro Eko.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Ketua APMD itu menggarisbawahi, setiap episode \nsejarah ( dari Kolonialisme Belanda, Nasionalisme Soekarno, \nDevelopmentalisme Soeharto, dan Neoliberalisme Reformasi) selalu \nmenampilkan sosok ideologi menonjol yang berbeda, tetapi empat episode \nyang berbeda itu memiliki kesamaan yakni sentralisme. Nasionalisme \nsangat kontras dengan kolonialisme, tetapi keduanya adalah sentralisme. \nApalagi, developmentalisme dan neoliberalisme, merupakan dua pewaris \nyang melanjutkan kolonialisme. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Sutoro Eko juga mengutip Susan \nBlackburn yang antara lain mengatakan selama 400 tahun, Jakarta hanya \nkota yang dibangun untuk memenuhi impian para penguasa dan kaum \naristokrasi uang. Penguasa ingin Jakarta menjadi semacam model kota \nharapan mereka sendiri. Jakarta bukan milik dan untuk kehidupan bersama.\n <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Sebagai seorang ilmuwan, Sutoro Eko wanti-wanti memberi \npreskripsi dan antisipasi terhadap berbagai konsekuensi yang tidak \ndisengaja (unintended consequences), jebakan \u00e2\u20ac\u0153musang berbulu domba\u00e2\u20ac\u009d para\n penumpang gelap, maupun jebakan mesin anti-politik yang \nteknokratik-birokratik, yang menyertai kehadiran ibu kota baru. \n(Humas\/Tass)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pindah ibu kota adalah hijrah untuk membuat sejarah masa depan. Tidak perlu berpikir dan berpendapat ala bakul plus tengkulak Jakarta yang hanya berhitung untung rugi. Hal itu dikatakan oleh Ketua STPMD \u00e2\u20ac\u0153APMD\u00e2\u20ac\u009d Yogyakarta Dr. Sutoro Eko Yunanto, Rabu (4\/9) pada kuliah umum bertema \u00e2\u20ac\u0153Keluar dari Negara Jakarta Membentuk Ulang Negara Indonesia.\u00e2\u20ac\u009d Kuliah umum diadakan di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":3671,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_joinchat":[],"footnotes":""},"categories":[4,5],"tags":[],"class_list":["post-3670","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-kampus","category-berita-pendidikan"],"publishpress_future_action":{"enabled":false,"date":"2026-06-28 18:58:05","action":"change-status","newStatus":"draft","terms":[],"taxonomy":"category","extraData":[]},"publishpress_future_workflow_manual_trigger":{"enabledWorkflows":[]},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3670","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3670"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3670\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3671"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3670"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3670"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3670"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}