
{"id":10516,"date":"2025-03-15T20:05:02","date_gmt":"2025-03-15T13:05:02","guid":{"rendered":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/?p=10516"},"modified":"2025-03-17T16:07:38","modified_gmt":"2025-03-17T09:07:38","slug":"transformasi-desa-dalam-mewujudkan-kesejahteraan-dan-kedaulatanrakyat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/transformasi-desa-dalam-mewujudkan-kesejahteraan-dan-kedaulatanrakyat\/","title":{"rendered":"Transformasi Desa Dalam Mewujudkan Kesejahteraan dan KedaulatanRakyat"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yogyakarta, 15 Maret 2025. Program Studi Ilmu Pemerintahan Sekolah Tinggi<br>Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) \u00e2\u20ac\u0153APMD\u00e2\u20ac\u009d bekerjasama dengan Ikatan<br>Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) dan The Indonesian Power for Democracy (IPD),<br>menyelenggarakan Kuliah Umum dan Buka Puasa Bersama dengan topik:<br>\u00e2\u20ac\u0153Transformasi Desa Dalam Mewujudkan Kesejahteraan dan Kedaulatan Rakyat\u00e2\u20ac\u009d. Kuliah<br>umum ini berangkat dari kenyataan bahwa Desa telah mengalami transformasi di<br>bawah UU No.6 Tahun 2014 yang kemudian di revisi menjadi UU No.3 Tahun 2024.<br>Namun, transformasi tersebut belum sepenuhnya menghantarkan desa ke pintu<br>gerbang kedaulatan dan kesejahteraan rakyat. Terdapat banyak kebijakan yang<br>dibuat oleh pemerintah pusat yang mengebiri kedaulatan dan kesejahteraan rakyat,<br>seperti kebijakan penggunaan dana desa untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT),<br>Stunting dan sebagainya, yang membuat desa menjadi kurang berwenang dalam<br>mengatur dan mengurus dirinya sendiri<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><a href=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03941-min-scaled.webp\"><img data-dominant-color=\"908480\" data-has-transparency=\"false\" style=\"--dominant-color: #908480;\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" src=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03941-min-1024x683.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-10531 not-transparent\" srcset=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03941-min-1024x683.webp 1024w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03941-min-300x200.webp 300w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03941-min-768x512.webp 768w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03941-min-1536x1024.webp 1536w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03941-min-2048x1365.webp 2048w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03941-min-272x182.webp 272w\" \/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kuliah umum ini menghadirkan pidato pembukaan dari Ketua Sekolah Tinggi<br>Pembangunan Masyarakat Desa \u00e2\u20ac\u0153APMD\u00e2\u20ac\u009d Dr. Sutoro Eko Yunanto yang<br>menyampaikan materi terkait: \u00e2\u20ac\u0153Transformasi Kemandirian Dan Kedaulatan Desa\u00e2\u20ac\u009d.<br>Dr. Sutoro Eko menyampaikan dua cara pandang dalam memandang desa yang<br>saling kontradiksi. Pertama, cara pandang esensialisme yang memandang desa<br>sebagai situs keaslian bagi negara bangsa-modern. Sebagai situs keaslian, desa<br>menyimpan dan memberi nilai-nilai yang merupakan tradisi agung untuk<br>memberikan inspirasi dalam pembentukan negara-bangsa. Esensialisme<br>memandang desa memberi nilai dan kultur yang akan membentuk sikap politik, baik<br>para pemimpin maupun masyarakat dalam memandang dunia maupun<br>memandang negara bangsa modern yang dibentuk. Selain itu, cara pandang yang<br>kedua adalah modernisme yang memandang desa sebagai situs yang kolot, jadul,<br>kuno, miskin, bodoh dan terbelakang. Akibatnya desa terus menerus digempur<br>dengan modernisasi dan pembangunan-pembangunan yang diklaim membawa<br>pertumbuhan dan kemajuan bagi desa. Realitasnya, desa diperkosa, diperalat dan<br>diseret menjadi semakin tidak berdaya dan berdaulat atas dirinya sendiri. Sutoro<br>juga menyampaikan kegagalan negara memberdayakan dan memajukan desa<br>karena birokratisasi dan teknokratisasi yang begitu rigid mengepung desa dengan<br>berbagai macam program lintas sektoral yang membatasi kewenangan pemerintah<br>desa. Ketika pemerintah desa gagal menjalankan program, desa dituding tidak<br>punya kapasitas, SDM rendah dan sebagainya. Negara membangun sambil<br>merusak, memajukan sambil melemahkan desa. Inilah yang saya sebut sebagai<br>kontradiksi,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><a href=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03920-min-scaled.webp\"><img data-dominant-color=\"9c8f87\" data-has-transparency=\"false\" style=\"--dominant-color: #9c8f87;\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" src=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03920-min-1024x683.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-10529 not-transparent\" srcset=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03920-min-1024x683.webp 1024w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03920-min-300x200.webp 300w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03920-min-768x512.webp 768w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03920-min-1536x1024.webp 1536w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03920-min-2048x1365.webp 2048w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03920-min-272x182.webp 272w\" \/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketua Presidium Ikatan Sarjana Katolik Indonesia Luky Agung Yusgiantoro,<br>B.Sc,.M.Sc,.Ph.D yang menyampaikan pidato pembukaan dengan materi: \u00e2\u20ac\u0153Kontribusi<br>dan Partisipasi Sarjana Katolik Dalam Memperkuat Kedaulatan dan Kemandirian<br>Desa\u00e2\u20ac\u009d diwakilkan oleh Sekjen ISKA Dr. Ch. Arie Sulistiono. Dr. Ch. Arie Sulistiono<br>mengatakan bahwa desa merupakan pintu gerbang untuk mencapai kedaulatan<br>dan kesejahteraan negara. Kalau desa tidak berdaulat dan tidak sejahtera, maka itu<br>juga menjadi ukuran negara. Negara melalui pemerintah, mesti terus didorong untuk<br>meningkatkan keberpihakan terhadap desa, terutama untuk memperkuat<br>kewenangan dan kemandirian desa. Karena itu, dia menyambut baik kegiatan<br>kolaborasi bersama STPMD &#8216;APMD&#8217; untuk mengupayakan desa yang lebih<br>berdaulat dan bermartabat. Sebagai bentuk keterlibatan orang Katolik dalam<br>pembangunan negara, kata dia, ISKA berkomitmen memperkuat desa, karena<br>ketika desa kuat negara akan maju dan berkembang. &#8220;Tidak akan ada negara maju<br>dan berkembang kalau desanya belum adil, makmur dan sejahtera,&#8221; ungkapnya.<br>Ketua Umum ISKA melalui Sekjen ISKA Dr. Ch. Arie Sulistiono juga menyampaikan<br>bahwa ISKA menyetujui kerjasama lanjutan dalam bentuk penerbitan buku Kajian<br>tentang Desa.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><a href=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03929-min-scaled.webp\"><img data-dominant-color=\"7e7774\" data-has-transparency=\"false\" style=\"--dominant-color: #7e7774;\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" src=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03929-min-1024x683.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-10530 not-transparent\" srcset=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03929-min-1024x683.webp 1024w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03929-min-300x200.webp 300w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03929-min-768x512.webp 768w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03929-min-1536x1024.webp 1536w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03929-min-2048x1365.webp 2048w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03929-min-272x182.webp 272w\" \/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah Pidato pembukaan dilanjutkan dengan sesi kuliah umum yang diisi oleh<br>Prof. Dr. Purwo Santoso, M.A dari Fisipol UGM dengan materi: Kedaulatan dan<br>Kesejahteraan Rakyat Untuk Siapa? Prof Dr. Purwo Santoso, M.A mengatakan<br>bahwa kita selalu keliru dalam memandang bahwa pembangunan desa seakanakan merupakan jerih payah pemerintah pusat, tidak dipahami bahwa<br>pembangunan merupakan bagian dari jerih payah rakyat yang diorkestari oleh<br>pemerintah. Dengan cara pandang ini, kita pun melihat bahwa kedaulatan dan<br>kesejahteraan rakyat merupakan jerih payah pemerintah bukan jerih payah rakyat.<br>Karena kedaulatan dan kesejahteraan dianggap sebagai usaha pemerintah dalam<br>mewujudkannya, maka rakyat sering sekali dijadikan obyek. Rakyat tidak menjadi<br>berdaulat, karena sering dijadikan proyek pemerintah.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><a href=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03951-min-scaled.webp\"><img data-dominant-color=\"827a74\" data-has-transparency=\"false\" style=\"--dominant-color: #827a74;\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" src=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03951-min-1024x683.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-10532 not-transparent\" srcset=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03951-min-1024x683.webp 1024w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03951-min-300x200.webp 300w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03951-min-768x512.webp 768w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03951-min-1536x1024.webp 1536w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03951-min-2048x1365.webp 2048w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03951-min-272x182.webp 272w\" \/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Direktur Eksekutif Komite Pemantauan Otonimi Daerah (KPPOD) Herman N.<br>Suparman yang menyampaikan materi: \u00e2\u20ac\u0153Transformasi Desa Menghadapi<br>Perubahan Kebijakan Pemerintah\u00e2\u20ac\u009d mengatakan bahwa Desa memiliki hak asal<br>usul dan hak tradisional dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat<br>setempat dan berperan mewujudkan cita-cita kemerdekaan berdasarkan Undang<br>Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Desa perlu berkembang<br>menjadi kuat, maju, mandiri, dan demokratis sehingga dapat menjadi tonggakan<br>negara dalam mengukur keberhasilan. Namun, KPPOD melihat bahwa desa masih<br>dijadikan obyek bagi pemerintah dalam menyelenggarakan negara. Ide<br>menghadirkan Koperasi Merah Putih misalnya, justru menempatkan desa sebagai<br>obyek yang tidak memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus dirinya<br>sendiri.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><a href=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03965-min-scaled.webp\"><img data-dominant-color=\"6f6661\" data-has-transparency=\"false\" style=\"--dominant-color: #6f6661;\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" src=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03965-min-1024x683.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-10533 not-transparent\" srcset=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03965-min-1024x683.webp 1024w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03965-min-300x200.webp 300w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03965-min-768x512.webp 768w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03965-min-1536x1024.webp 1536w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03965-min-2048x1365.webp 2048w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03965-min-272x182.webp 272w\" \/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketua Prodi Ilmu Pemerintahan STPMD \u00e2\u20ac\u0153APMD\u00e2\u20ac\u009d Dr. Gregorius Sahdan, M.A yang<br>membawakan materi: \u00e2\u20ac\u0153Desa Dalam Kepungan Negara\u00e2\u20ac\u009d, menyampaikan bahwa<br>kita perlu melihat desa dari perspektif rakyat jelata, bukan dari perspektif elite. Dari<br>perspektif rakyat, desa selalu dijadikan anak tiri republik, jadi korban kebijakan<br>pemerintah, dianggap bodoh, tidak mampu dan bahkan disingkirkan dalam proses<br>kebijakan publik. Sejarah republik sebenarnya adalah sejarah kontribusi desa. Ada<br>negara karena ada desa. Namun pemerintah dengan berbagai kebijakannya kerap<br>mengabaikan desa dan menganggap desa tidak memiliki kewenangan. Lima tahun<br>terakhir pemerintahan Jokowi, desa kerap dijadikan sebagai korban kebijakan<br>kementerian sektoral yang menyedot dan mengambil dana desa. Misalnya<br>kebijakan stunting dari Kementerian Kesehatan, BLT Dana Desa dari Kementerian<br>Sosial, SDGs dari Bappenas, Ketahanan Pangan dari Kementerian Pertanian,<br>Pendidikan Berkualitas dari Kementrian Pendidikan, menyebabkan Musyawarah<br>Desa (MUSDES) hanya sekedar formalitas untuk menyetujui program kementerian<br>sektoral yang telah membagi habis penggunaan dana desa untuk membiayai<br>berbagai program tersebut. Desa juga tengah dikepung oleh Koperasi Masuk Desa<br>yang rencananya juga diambil dari dana desa. Karena itu, masalah air bersih, listrik<br>desa, dan sebagainya kerap diabaikan demi memuluskan program kementerian<br>sektoral ini. Anehnya Menteri Desa melalui Peraturan Penggunaan Dana Desa,<br>memberikan jalan mulus bagi pelaksanaan program kementerian sektoral ini.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><a href=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03968-min-scaled.webp\"><img data-dominant-color=\"8c837e\" data-has-transparency=\"false\" style=\"--dominant-color: #8c837e;\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" src=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03968-min-1024x683.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-10534 not-transparent\" srcset=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03968-min-1024x683.webp 1024w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03968-min-300x200.webp 300w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03968-min-768x512.webp 768w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03968-min-1536x1024.webp 1536w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03968-min-2048x1365.webp 2048w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03968-min-272x182.webp 272w\" \/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tujuan Kuliah Umum ini adalah meningkatkan partisipasi dan kontribusi multipihak<br>dalam memperkuat kapasitas Desa. Kuliah umum ini dilaksanakan pada Sabtu, 15<br>Maret 2025 Pukul 15.00-18.WIB di Ruang M.Soetopo STPMD \u00e2\u20ac\u0153APMD\u00e2\u20ac\u009d yang dihadiri oleh<br>hampir 200 peserta pegiat desa, aktivis desa, dosen dan mahasiswa.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><a href=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03987-min-scaled.webp\"><img data-dominant-color=\"9e9388\" data-has-transparency=\"false\" style=\"--dominant-color: #9e9388;\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" src=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03987-min-1024x683.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-10536 not-transparent\" srcset=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03987-min-1024x683.webp 1024w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03987-min-300x200.webp 300w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03987-min-768x512.webp 768w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03987-min-1536x1024.webp 1536w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03987-min-2048x1365.webp 2048w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03987-min-272x182.webp 272w\" \/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><a href=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03916-scaled.webp\"><img data-dominant-color=\"5c5955\" data-has-transparency=\"false\" style=\"--dominant-color: #5c5955;\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" src=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03916-1024x683.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-10523 not-transparent\" srcset=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03916-1024x683.webp 1024w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03916-300x200.webp 300w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03916-768x512.webp 768w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03916-1536x1024.webp 1536w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03916-2048x1365.webp 2048w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03916-272x182.webp 272w\" \/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><a href=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03979-min-scaled.webp\"><img data-dominant-color=\"675f5a\" data-has-transparency=\"false\" style=\"--dominant-color: #675f5a;\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" src=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03979-min-1024x683.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-10535 not-transparent\" srcset=\"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03979-min-1024x683.webp 1024w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03979-min-300x200.webp 300w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03979-min-768x512.webp 768w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03979-min-1536x1024.webp 1536w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03979-min-2048x1365.webp 2048w, https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/DSC03979-min-272x182.webp 272w\" \/><\/a><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yogyakarta, 15 Maret 2025. Program Studi Ilmu Pemerintahan Sekolah TinggiPembangunan Masyarakat Desa (STPMD) \u00e2\u20ac\u0153APMD\u00e2\u20ac\u009d bekerjasama dengan IkatanSarjana Katolik Indonesia (ISKA) dan The Indonesian Power for Democracy (IPD),menyelenggarakan Kuliah Umum dan Buka Puasa Bersama dengan topik:\u00e2\u20ac\u0153Transformasi Desa Dalam Mewujudkan Kesejahteraan dan Kedaulatan Rakyat\u00e2\u20ac\u009d. Kuliahumum ini berangkat dari kenyataan bahwa Desa telah mengalami transformasi dibawah UU No.6 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":10527,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_joinchat":[],"footnotes":""},"categories":[23,4],"tags":[],"class_list":["post-10516","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-berita-kampus"],"publishpress_future_action":{"enabled":false,"date":"2026-07-15 05:05:04","action":"change-status","newStatus":"draft","terms":[],"taxonomy":"category","extraData":[]},"publishpress_future_workflow_manual_trigger":{"enabledWorkflows":[]},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10516","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10516"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10516\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10537,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10516\/revisions\/10537"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10527"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10516"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10516"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/stpmd.apmd.ac.id\/st\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10516"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}